Halaman

Selasa, 04 Februari 2014

Harry Potter And The Half-Blood Prince

02. SPINNER´S END


02. SPINNER´S END

Di tempat yang berjarak berkilo-kilo meter, kabut dingin yang menekan jendela Perdana Menteri melayang di atas sungai kotor yang berkelok-kelok sepanjang tepian yang ditumbuhi semak dengan sampah berserakan. Sebuah cerobong besar, peninggalan penggilingan yang sudah tak terpakai, menjulang, seperti bayangan mengerikan. Tak ada suara selain desah air hitam dan tak ada tanda-tanda kehidupan kecuali seekor rubah kurus yang menyelinap menuruni tepian sungai, mengendus-endus penuh harap bungkus kentang dan ikan goreng di antara rerumputan tinggi.
Namun kemudian, dengan bunyi pop pelan, sosok ramping berkerudung tiba-tiba muncul di tepi sungai. Si rubah membeku, matanya yang waspada tertuju pada wujud baru yang aneh ini. Sosok itu tampak memperhatikan keadaan sekelilingnya sesaat, kemudian berjalan dengan langkah-langkah ringan dan cepat, mantel panjangnya berkeresek di atas rumput.
Terdengar bunyi pop kedua yang lebih keras, dan satu lagi sosok berkerudung muncul.
"Tunggu!"
Seruan parau ini mengejutkan si rubah, yang sedang mengendap nyaris rata di bawah semak. Rubah itu melompat dari tempat persembunyiannya dan berlari menaiki tebing. Seleret cahaya hijau menyambar, terdengar dengkingan, dan si rubah terjatuh kembali di tanah, mati.
Sosok kedua membalik binatang itu dengan jari-jari kakinya.
"Cuma rubah," kata suara Wanita -- lega dari bawah kerudung. "Kukira tadi mungkin Auror-Cissy, tunggu!"
Namun buruannya, yang tadi berhenti dan menoleh ketika cahaya menyambar, sudah merayap memanjat tebing tempat si rubah tadi tergelincir.
"Cissy Narcissa dengarkan aku--"
Wanita kedua berhasil mengejar yang pertama dan menyambar lengannya, namun si wanita pertama menariknya lepas.
"Pulanglah, Belia!"
"Kau harus mendengarkan aku!"
"Aku sudah mendengarkan. Aku sudah mengambil keputusan. Tinggalkan aku sendiri."
Wanita bernama Narcissa mencapai tepian sungai. Di tempat itu pagar tua memisahkan sungai itu dari jalan batu sempit. Wanita yang lain, Bella, langsung menyusulnya. Mereka berdiri berdampingan memandang ke seberang jalan, ke deretan-deretan rumah bata kumuh, jendela-jendelanya suram dan tertutup dalam kegelapan.
"Dia tinggal di sini?" tanya Bella dengan suara menghina. "Di sini? Di kawasan kumuh Muggle ini? Kita pasti orang pertama bangsa kita yang menginjakkan kaki--"
Namun Narcissa tidak mendengarkan; dia telah menyelinap melewati celah di pagar berkarat dan bergegas menyeberang jalan.
"Cissy, tunggu!"
Bella menyusul, mantelnya melambai di belakangnya, dan melihat Narcissa berlari sepanjang jalan sempit di antara rumah-rumah, masuk ke jalan sempit yang nyaris identik. Beberapa lampu jalanan tidak menyala; kedua wanita ini berlari bergantian melewati jalanan yang diterangi seberkas cahaya dan tempat-tempat yang gelap gulita. Si pengejar berhasil mengejar buruannya tepat ketika dia akan berbelok lagi, kali ini dia berhasil menangkap lengannya dan membalikkan tubuhnya, sehingga mereka berhadapan.
"Cissy, kau tak boleh melakukan ini, kau tak bisa memercayainya--"
"Pangeran Kegelapan memercayainya, kan?"
"Pangeran Kegelapan ... kurasa ... keliru," Bella tersengal, dan sekejap matanya berkilat di bawah kerudungnya ketika dia memandang berkeliling untuk memastikan mereka benar-benar berdua saja. "Bagaimanapun juga, kita sudah dipesan tidak boleh memberitahukan rencana ini kepada siapa pun. Ini pengkhianatan terhadap perintah Pangeran Kegel--"
"Lepaskan, Bella!" gertak Narcissa dan dia mencabut tongkat sihir dari bawah mantelnya, mengacungkannya dengan mengancam ke wajah pengejarnya. Bella hanya tertawa.
"Cissy, kakakmu sendiri? Kau tak akan--"
"Tak ada lagi yang tak akan kulakukan!" Narcissa mendesah, ada nada histeris dalam suaranya, dan begitu dia menebaskan tongkatnya seperti pisau, ada sambaran cahaya lagi. Bella melepas lengan adiknya seakan tangannya terbakar.
"Narcissa!"
Tetapi Narcissa telah berlari meninggalkannya. Seraya menggosok-gosok tangannya, Bella mengejarnya lagi, kali ini menjaga, jarak, ketika mereka masuk lebih jauh dalam labirin rumah-rumah bata tanpa penghuni. Akhirnya Narcissa bergegas menyusuri jalan bernama Spinner's End -- Ujung Pemintal. Di atas jalan itu cerobong penggilingan tampak menjulang, seperti jari raksasa yang sedang memberi teguran. Langkah-langkahnya bergaung di atas jalan batu ketika dia melewati jendela-jendela yang kacanya pecah dan ditutup papan, sampai dia tiba di rumah paling akhir. Di rumah itu ada cahaya temaram dari balik jendela bergorden di, sebuah ruangan di lantai bawah.
Dia telah mengetuk pintu sebelum Bella, mengutuk pelan, berhasil menyusulnya. Bersama-sama mereka berdiri menunggu, sedikit terengah, menghirup bau sungai kotor yang terbawa angin malam ke hidung mereka. Selewat beberapa saat mereka mendengar gerakan di balik pintu dan pintu membuka secelah. Dari celah sempit itu tampak seorang pria memandang mereka, pria dengan rambut panjang terbelah di tengah, seperti gorden yang membingkai wajahnya yang pucat dan matanya yang hitam.
Narcissa melempar kerudung kepalanya ke belakang. Wajahnya pucat sekali sehingga tampaknya bersinar dalam kegelapan; rambut pirangnya yang panjang dan terjurai di punggungnya membuatnya tampak seperti orang tenggelam.
"Narcissa!" kata pria itu, membuka pintu sedikit lebih lebar, sehingga cahaya mengenai dia dan juga kakaknya. "Sungguh kejutan menyenangkan!"
"Severus," katanya dalam bisikan tegang. "Boleh aku bicara denganmu? Penting sekali."
"Tentu saja."
Pria itu mundur agar Narcissa bisa melewatinya masuk ke dalam rumah. Kakaknya yang masih berkerudung ikut masuk tanpa dipersilakan.
"Snape " katanya pendek ketika melewatinya
"Bellatrix," balasnya, mulutnya yang tipis melengkung menjadi senyum agak mengejek ketika dia menutup pintu rapat-rapat di belakang mereka.
Mereka masuk ke ruang duduk mungil, yang memberi kesan sel gelap berperedam. Seluruh dindingnya dipenuhi buku, sebagian besar buku-buku tua dengan sampul kulit hitam atau cokelat; sebuah sofa usang, kursi berlengan tua, dan meja reyot berkumpul dalam cahaya temaram yang disorotkan oleh lampu lilin yang tergantung di langit-langit. Tempat ini kesannya telantar, seakan biasanya tidak dihuni.
Snape memberi isyarat agar Narcissa duduk di sofa. Narcissa membuka mantelnya, melemparnya, dan duduk, memandang tangannya yang putih gemetar terkatup di pangkuannya. Bellatrix menurunkan kerudungnya lebih pelan. Jika adiknya berkulit putih, kulitnya gelap, dengan mata berpelupuk tebal dan rahang kuat. Dia tak melepaskan pandangan dari Snape ketika bergerak untuk berdiri di belakang Narcissa.
"Nah, apa yang bisa kulakukan untukmu?" tanya Snape, seraya duduk di kursi berlengan di hadapan kedua kakak-beradik itu.
"Kita ... kita sendiri, kan?" Narcissa bertanya pelan.
"Ya, tentu saja. Wormtail ada di sini, tapi tikus tidak masuk hitungan, kan?"
Snape mengacungkan tongkat sihirnya ke dinding buku di belakangnya dan, dengan bunyi letupan, sebuah pintu rahasia menjeblak terbuka, memperlihatkan sebuah tangga sempit, di atasnya seorang pria kecil berdiri membeku.
"Seperti yang jelas telah kau ketahui, Wormtail, ada tamu," kata Snape santai.
Pria itu merayap dengan membungkuk menuruni beberapa anak tangga terakhir dan masuk ke dalam ruangan. Matanya kecil, berair, hidungnya runcing, dan senyumnya tidak menyenangkan. Tangan kirinya mengelus tangan kanannya, yang kelihatannya seakan terbungkus sarung tangan perak terang.
"Narcissa!" katanya, dengan suara melengking, "dan Bellatrix! Sungguh menyenangkan --"
"Wormtail akan mengambilkan minuman, jika kalian mau minum," kata Snape. "Dan kemudian dia akan kembali ke kamarnya."
Wormtail berjengit seakan Snape melemparnya dengan sesuatu.
"Aku bukan pembantumu!" lengkingnya, menghindari mata Snape.
"Masa? Setahuku Pangeran Kegelapan menempatkanmu di sini untuk membantuku."
"Untuk membantu, ya tetapi bukan untuk membuatkan minuman dan -- dan membersihkan rumahmu!"
"Aku tak tahu, Wormtail, bahwa kau menginginkan tugas yang lebih berbahaya," kata Snape licik. "Ini bisa diatur dengan mudah. Aku akan bicara kepada Pangeran Kegelapan --"
"Aku bisa bicara sendiri dengannya kalau aku mau!"
"Tentu saja," kata Snape, menyeringai. "Tetapi sementara itu, ambilkan kami minuman. Anggur buatan peri bolehlah."
Wormtail bimbang sejenak, tampaknya dia akan membantah, namun kemudian berbalik dan masuk ke pintu tersembunyi kedua. Mereka mendengar bunyi berkelontangan, dan denting gelas beradu. Dalam waktu beberapa detik dia sudah kembali, membawa sebuah botol berdebu dan, tiga gelas di atas nampan. Semua diletakkannya di atas meja reyot, lalu dia bergegas meninggalkan mereka, membanting pintu berlapis buku menutup di belakangnya.
Snape menuang tiga gelas anggur merah-darah dan mengulurkan dua di antaranya kepada dua bersaudara itu. Narcissa menggumamkan ucapan terima kasih, sementara Bellatrix tidak berkata apa-apa, kecuali terus memandang galak Snape. Ini tampaknya tidak mempengaruhi ketenangan Snape; sebaliknya, dia malah tampak agak geli.
"Pangeran Kegelapan," katanya, mengangkat gelasnya dan menenggaknya habis.
Kedua kakak-beradik melakukan hal yang sama. Snape mengisi kembali gelas mereka.
Seraya meminum gelasnya yang kedua, Narcissa berkata buru-buru, "Severus, aku minta maaf datang ke sini seperti ini, tetapi aku harus bertemu denganmu. Kurasa kau satu-satunya yang bisa menolongku --"
Snape mengangkat tangan menghentikannya, kemudian mengacungkan lagi tongkat sihirnya ke arah pintu tangga yang tersembunyi. Terdengar letusan keras dan jeritan, diikuti suara Wormtail yang bergegas menaiki tangga.
"Maaf," kata Snape. "Belakangan ini dia suka menguping di belakang pintu. Aku tak tahu apa maunya ... kau tadi mau bilang apa, Narcissa?"
Narcissa bergidik, menarik napas dalam-dalam, dan mulai lagi.
"Severus, aku tahu seharusnya aku tak boleh berada di sini, aku sudah dilarang berkata apa pun kepada siapa pun."
"Kalau begitu kau harus tutup mulut!" gertak Bellatrix. "Khususnya kepada orang ini!"
"Orang ini?" ulang Snape sinis. "Dan apa maksudmu berkata begitu, Bellatrix?" .
"Bahwa aku tidak memercayaimu, Snape, seperti yang kau ketahui dengan baik!"
Narcissa mengeluarkan suara yang mungkin saja isak kering dan menutupi wajah dengan tangannya. Snape meletakkan gelas di atas meja dan duduk lagi, tangannya di atas lengan kursi, tersenyum kepada wajah gusar Bellatrix.
"Narcissa, kurasa kita harus mendengar apa yang sudah ingin sekali disampaikan Bellatrix; ini akan mencegah interupsi-interupsi membosankan. Nah, teruskan, Bellatrix," kata Snape. "Kenapa kau tidak memercayaiku?"
"Ratusan alasan!" katanya keras, berjalan dari balik sofa untuk membanting gelasnya di atas meja. "Mulai dari mana! Di mana kau ketika Pangeran Kegelapan jatuh? Kenapa kau tidak pernah berusaha mencarinya ketika dia menghilang? Apa yang kau lakukan selama bertahun-tahun hidup dalam cengkeraman Dumbledore? Kenapa kau mencegah Pangeran Kegelapan mendapatkan Batu Bertuah? Kenapa kau tidak segera datang ketika Pangeran Kegelapan lahir kembali? Di mana kau beberapa minggu yang lalu, ketika kami bertempur untuk memperoleh kembali ramalan bagi Pangeran Kegelapan? Dan kenapa, Snape, Harry Potter masih hidup, padahal dia ada dalam kekuasaanmu selama lima tahun?"
Bellatrix berhenti, dadanya naik-turun dengan cepat, pipinya memerah. Di belakangnya Narcissa duduk bergeming, wajahnya masih tersembunyi di balik tangannya.
Snape tersenyum.
"Sebelum aku menjawabmu -- oh, ya, Bellatrix, aku akan menjawab! Kau boleh menyampaikan kata-kataku kepada yang lain yang berbisik-bisik di balik punggungku, dan menyiarkan kabar bohong tentang pengkhianatanku terhadap Pangeran Kegelapan! Sebelum aku menjawabmu, kataku, izinkan aku balas menanyaimu. Apakah kau benar-benar mengira bahwa Pangeran Kegelapan tidak mengajukan semua pertanyaan itu? Dan apakah kau benar-benar mengira bahwa, kalau aku tidak sanggup memberikan jawaban yang memuaskan, aku akan duduk di sini bicara denganmu?"
Bellatrix bimbang.
"Aku tahu dia memercayaimu, tapi --"
"Kau pikir dia keliru? Atau bahwa aku berhasil memperdayainya? Membodohi Pangeran Kegelapan, penyihir paling hebat, Legilimens paling piawai yang pernah ada di dunia?"
Bellatrix tidak berkata apa-apa, tetapi untuk pertama kalinya dia tampak sedikit bingung. Snape tidak mendesak lebih jauh. Dia mengambil kembali minumannya, menghirupnya, dan melanjutkan, "Kau bertanya di mana aku ketika Pangeran Kegelapan jatuh. Aku berada di tempat di mana aku harus berada, sesuai perintah Pangeran Kegelapan, di Sekolah Sihir Hogwarts, karena dia menginginkan aku memata-matai Albus Dumbledore. Kau tahu, kukira, bahwa aku menerima jabatanku di sana atas perintah Pangeran Kegelapan?"
Bellatrix mengangguk nyaris tak tampak, dan membuka mulutnya, tetapi Snape mencegahnya.
"Kau bertanya kenapa aku tidak berusaha mencarinya ketika dia menghilang. Karena alasan yang sama yang membuat Avery, Yaxley, pasangan Carrow, Greyback, Lucius," dia mengedikkan kepalanya sedikit ke arah Narcissa, "dan banyak lagi tidak berusaha mencarinya. Aku mengira dia sudah tamat. Aku tidak bangga karenanya, aku keliru, tetapi ya begitulah ... jika dia tidak memaafkan kami yang kehilangan kepercayaan terhadapnya waktu itu, dia hanya akan punya sedikit pengikut."
"Dia akan memilikiku!" kata Bellatrix emosional. "Aku, yang melewatkan bertahun-tahun di Azkaban demi dia!"
"Ya, betul, pantas dikagumi," kata Snape dengan suara bosan. "Tentu saja, kau tak banyak gunanya baginya di penjara, tetapi langkahmu tak diragukan lagi baik--"
"Langkah!" jerit Bellatrix; dalam kemarahannya dia tampak agak seperti orang gila. "Sementara aku menahan kekejaman para Dementor, kau tinggal di Hogwarts, menikmati jadi anak emas Dumbledore!"
"Tidak sepenuhnya," kata Snape kalem. "Dia menolak memberiku jabatan guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, kau tahu. Rupanya dia mengira itu bisa, ah, menimbulkan kembali penyakit lama ... memicuku kembali ke kebiasaan lamaku."
"Itu pengorbananmu untuk Pangeran Kegelapan, tidak mengajar mata pelajaran favoritmu?" Bellatrix mencemooh. "Kenapa kau tinggal terus di sana, Snape? Masih memata-matai Dumbledore untuk tuan yang sudah kau anggap mati?"
"Hampir tidak," kata Snape, "meskipun Pangeran Kegelapan senang aku tak pernah meninggalkan posku. Aku punya informasi tentang Dumbledore selama enam belas tahun untuk kuberikan kepadanya ketika dia kembali, hadiah selamat datang yang agak lebih berguna daripada kenangan yang tak ada habisnya tentang betapa tak menyenangkannya Azkaban ..."
"Tapi kau tetap di sana --"
"Ya, Bellatrix, aku tetap di sana," kata Snape, untuk pertama kalinya memperlihatkan tanda-tanda ketidaksabaran. "Aku punya pekerjaan menyenangkan yang lebih kusukai daripada mendekam di Azkaban. Mereka menangkapi Pelahap Maut, kau tahu kan. Perlindungan Dumbledore membuatku tidak masuk penjara, itu sangat menguntungkan dan aku menggunakannya. Kuulangi: Pangeran Kegelapan tidak mengeluh aku tetap di sana, jadi aku tak mengerti kenapa kau mengeluh."
"Kupikir, berikutnya kau ingin tahu," dia melanjutkan, sedikit lebih keras, karena Bellatrix menunjukkan segala tanda mau menginterupsi, "kenapa aku jadi penghalang di antara Pangeran Kegelapan dan Batu Bertuah. Ini bisa dijawab dengan mudah. Dia tak tahu apakah dia bisa memercayaiku. Dia mengira, seperti kau, bahwa aku telah berbalik dari Pelahap Maut setia menjadi kaki tangan Dumbledore. Kondisinya mengenaskan, sangat lemah, berbagi tubuh dengan penyihir yang cuma cukupan saja. Dia tak berani memperlihatkan diri kepada sekutu lamanya, khawatir sekutu itu akan menyerahkannya kepada Dumbledore atau Kementerian. Aku menyesal sekali dia tidak memercayaiku. Kalau dia memercayaiku, dia sudah kembali berkuasa tiga tahun lebih awal. Seperti yang terjadi, aku hanya melihat Quirrel yang tamak dan tak berharga berusaha mencuri Batu dan, kuakui, kulakukan segala yang aku bisa untuk menghalanginya."
Mulut Bellatrix mengernyit seolah dia baru saja meminum obat yang pahit.
"Tapi kau tidak datang waktu dia muncul kembali, kau tidak langsung terbang menemuinya ketika kau merasakan Tanda Kegelapan terbakar --"
"Betul. Aku datang dua jam kemudian. Aku datang atas perintah Dumbledore."
"Atas perintah Dumble-?" katanya, dengan nada murka.
"Pikirkan!" tukas Snape, tak sabar lagi. "Pikirkan! Dengan menunggu dua jam, hanya dua jam, aku memastikan bahwa aku bisa tetap tinggal di Hogwarts sebagai mata-mata! Dengan membiarkan Dumbledore mengira aku hanya kembali ke sisi Pangeran Kegelapan karena aku diperintahkannya, aku bisa menyampaikan informasi tentang Dumbledore dan Orde Phoenix sejak saat itu! Pertimbangkan, Bellatrix: Tanda Kegelapan sudah semakin menguat selama berbulan-bulan, aku tahu dia pasti akan kembali, semua Pelahap Maut tahu! Bukankah aku punya banyak waktu untuk memikirkan apa yang akan kulakukan, merencanakan langkahku. berikutnya, untuk kabur seperti Karkaroff?"
"Kegusaran awal Pangeran Kegelapan soal kedatanganku yang terlambat sirna sepenuhnya, yakinlah, ketika aku menjelaskan bahwa aku tetap setia, kendatipun Dumbledore mengira aku orang kepercayaannya. Ya, Pangeran Kegelapan tadinya mengira aku telah meninggalkannya selamanya, namun dia keliru."
"Tapi apa kegunaanmu?" cemooh Bellatrix. "Informasi bermanfaat apa yang kami dapat darimu?"
"Informasiku disampaikan langsung kepada Pangeran Kegelapan," kata Snape. "Kalau dia memilih tidak memberitahumu --"
"Dia memberitahuku segalanya!" kata Bellatrix, langsung meledak. "Dia menyebutku pengikutnya yang paling loyal, paling setia, paling --"
"Betulkah?" kata Snape, suaranya sengaja menyiratkan ketidakpercayaannya. "Masihkah dia menganggapmu begitu setelah kegagalan di Kementerian?"
"Itu bukan salahku!" kata Bellatrix, wajahnya memerah. "Pangeran Kegelapan, tadinya, memercayaiku dan memberitahuku rahasianya yang paling kalau Lucius tidak --"
"Jangan berani-berani-jangan berani-berani kau menyalahkan suamiku!" kata Narcissa, dengan suara rendah dan mengancam, menatap kakaknya.
"Tak ada gunanya membagi-bagi kesalahan," kata Snape lancar. "Semuanya sudah terjadi."
"Tapi kau tak ambil bagian!" kata Bellatrix gusar. "Tidak, kau sekali lagi absen sementara kami yang lain menghadapi bahaya, kan, Snape?"
"Perintah untukku adalah agar tinggal di tempat," kata Snape. "Mungkin kau tidak setuju dengan Pangeran Kegelapan, mungkin kau berpendapat Dumbledore tidak akan memperhatikan bahwa aku telah bergabung dengan para Pelahap Maut untuk melawan Orde Phoenix? Dan maafkan aku kau bicara soal bahaya ... bukankah kalian menghadapi enam remaja?"
"Mereka didukung, seperti yang kau ketahui, oleh separo Orde dalam waktu singkat!" bentak Bellatrix. "Dan, selagi kita bicara tentang Orde, kau tetap menyatakan tak bisa memberitahukan tempat Markas Besarnya, kan?"
"Aku bukan Penjaga Rahasia mereka, aku tak bisa menyebutkan nama tempat itu. Kau kan tahu bagaimana cara kerja sihir ini, kukira? Pangeran Kegelapan puas dengan informasi yang kusampaikan kepadanya soal Orde. Informasiku menghasilkan, seperti yang mungkin telah kautebak, penangkapan dan pembunuhan terhadap Emmeline Vance belum lama ini, dan jelas membantu membereskan Sirius Black, walaupun aku mengakui kau yang menghabisinya."
Snape mengedikkan kepala dan bersulang untuk Bellatrix. Ekspresi Bellatrix tidak melunak.
"Kau menghindari pertanyaanku yang terakhir, Snape. Harry Potter. Kau bisa membunuhnya kapan saja dalam lima tahun belakangan ini. Kau tidak melakukannya. Kenapa?"
"Sudahkah kau membicarakan masalah ini dengan Pangeran Kegelapan?" tanya Snape.
"Dia ... belakangan ini, kami ... aku menanyaimu, Snape!"
"Jika aku membunuh Harry Potter, Pangeran Kegelapan tidak akan bisa menggunakan darahnya untuk lahir kembali, membuatnya tak terkalahkan --"
"Kau menyatakan kau sudah tahu sebelumnya kegunaan anak ini bagi Pangeran Kegelapan!" cemooh Bellatrix.
"Aku tidak bermaksud berkata begitu; aku sama sekali tak tahu rencananya. Aku sudah mengakui, kusangka Pangeran Kegelapan sudah mati. Aku hanya mencoba menjelaskan kenapa Pangeran Kegelapan tidak menyesal bahwa Potter bertahan hidup, paling tidak sampai setahun yang lalu ..."
"Tetapi kenapa kau membiarkannya hidup?"
"Kau belum memahamiku? Perlindungan Dumbledore-lah yang membuatku tidak dikirim ke Azkaban! Apakah kau tidak sepakat bahwa membunuh murid favoritnya mungkin akan membuatnya memusuhiku? Tetapi ada alasan lain. Kuingatkan bahwa ketika Potter baru tiba di Hogwarts masih banyak beredar cerita tentang dia, rumor bahwa dia adalah penyihir hitam yang hebat, itulah sebabnya dia berhasil selamat dari serangan Pangeran Kegelapan. Malah, banyak pengikut lama Pangeran Kegelapan mengira Potter bisa dijadikan panutan, bersamanya kita sekali lagi bisa bersatu. Aku penasaran, kuakui, dan sama sekali tak berniat langsung membunuhnya begitu dia tiba di kastil."
"Tentu saja, segera menjadi jelas bagiku bahwa dia sama sekali tak punya bakat istimewa. Dia, berhasil lolos dari berbagai situasi sulit semata-mata berkat kombinasi keberuntungan dan kawan-kawan yang lebih berbakat daripadanya. Dia cuma biasa-biasa saja, meskipun sama menjengkelkan dari berpuas diri seperti ayahnya. Aku sudah berusaha sebisaku untuk membuatnya dikeluarkan dari Hogwarts, menurutku dia tak layak berada di Hogwarts, tetapi membunuhnya atau membiarkan dia terbunuh di depanku? Aku tolol kalau berani mengambil risiko ini, dengan Dumbledore berada dekat begitu."
"Dan selama ini kami diharapkan percaya Dumbledore tidak pernah mencurigaimu?" tanya Bellatrix.
"Dia sama sekali tak menyadari kepada siapa sebetulnya kesetiaanmu kauberikan, dia masih memercayaimu sepenuhnya?"
"Aku memainkan peranku dengan baik," kata Snape.
"Dan kau melupakan kelemahan terbesar Dumbledore: dia memercayai yang terbaik dari setiap orang. Aku mengarang cerita penyesalan teramat dalam ketika aku bergabung menjadi stafnya, langsung setelah meninggalkan hari-hariku sebagai Pelahap Maut, dan dia menerimaku dengan tangan terbuka meskipun, seperti kukatakan, sebisanya tak pernah mengizinkan aku dekat dengan Ilmu Hitam. Dumbledore penyihir hebat oh ya, dia penyihir hebat" (karena Bellatrix mengeluarkan suara tajam) "Pangeran Kegelapan mengakuinya. Meskipun demikian, aku senang mengatakan, bahwa Dumbledore sekarang sudah tua. Duel dengan Pangeran Kegelapan bulan lalu mengguncangnya. Sejak duel itu dia menderita luka serius, karena reaksinya lebih lambat daripada sebelumnya. Tetapi selama bertahun-tahun ini dia tidak pernah berhenti memercayai Severus Snape, dan itulah sebabnya aku sangat berharga bagi Pangeran Kegelapan."
Bellatrix masih tidak puas, meskipun dia tampak sangsi bagaimana cara paling baik menyerang Snape berikutnya. Menggunakan kesempatan diamnya Bellatrix, Snape menoleh memandang adiknya.
"Nah ... kau datang untuk meminta bantuanku, Narcissa?"
Narcissa mengangkat muka menatapnya, wajahnya dipenuhi keputusasaan.
"Ya, Severus. Ku -- kurasa kau satu-satunya yang bisa menolongku. Tak ada orang lain yang bisa kumintai tolong. Lucius di penjara dan ..."
Dia memejamkan mata dan dua butir air mata besar bergulir dari bawah pelupuknya.
"Pangeran Kegelapan telah melarangku membicarakan ini;" Narcissa melanjutkan, matanya masih terpejam. "Dia tak mau orang lain tahu tentang rencana ini. Ini ... sangat rahasia. Tapi --"
"Kalau dia melarang, kau tak boleh membicarakannya," kata Snape segera. "Kata-kata Pangeran Kegelapan adalah hukum."
Narcissa kaget seakan Snape telah menyiramnya dengan air dingin. Bellatrix tampak puas untuk pertama kalinya sejak dia memasuki rumah itu.
"Nah!" katanya penuh kemenangan kepada adiknya. "Bahkan Snape melarangmu bicara, jadi jangan bicara!"
Namun Snape telah bangkit dan berjalan ke jendela kecil, mengintip melalui gorden ke arah jalan yang sepi, kemudian menutup kembali gorden dengan sentakan. Dia berbalik menghadapi Narcissa, mengernyit.
"Kebetulan aku tahu rencana ini;" katanya pelan. "Aku salah satu dari sedikit orang yang diberitahu Pangeran Kegelapan. Meskipun demikian, seandainya aku tak mengetahui rahasia ini, Narcissa, kau akan bersalah melakukan pengkhianatan besar terhadap Pangeran Kegelapan."
"Kupikir kau pasti tahu tentang ini!" kata Narcissa, bernapas lebih lega. "Dia amat memercayaimu, Severus ..."
"Kau tahu rencana itu?" kata Bellatrix, ekspresi kepuasan yang cuma sekilas kini digantikan kemurkaan.
"Kau tahu?"
"Tentu," kata Snape. "Tetapi, bantuan seperti apa yang kau kehendaki, Narcissa? Kalau kau membayangkan aku bisa membujuk Pangeran Kegelapan untuk mengubah pikirannya, aku khawatir tak ada harapan, sama sekali tak ada harapan."
"Severus," bisiknya, air mata mengalir di pipinya yang pucat. "Anakku ... anak tunggalku ..."
"Draco mestinya bangga," kata Bellatrix tak peduli. "Pangeran Kegelapan memberinya kehormatan besar. Dan aku akan mengatakan ini untuk Draco: dia tidak menyingkir dari tugasnya, dia tampaknya senang punya kesempatan untuk membuktikan diri, bersemangat mau melakukannya --"
Narcissa mulai menangis tersedu, tak hentinya menatap Snape dengan pandangan memohon.
"Itu karena dia baru enam belas tahun dan sama sekali tak tahu apa yang akan dihadapinya! Kenapa, Severus? Kenapa anakku? Ini terlalu berbahaya! Ini pembalasan bagi kesalahan Lucius. Aku tahu!"
Snape diam saja. Dia memalingkan pandangan dari air mata Narcissa, seakan itu tak pantas, namun dia tak bisa berpura-pura tidak mendengarnya
"Itulah sebabnya dia memilih Draco, kan?" Narcissa mendesak. "Untuk menghukum Lucius?
"Jika Draco berhasil," kata Snape, masih tidak memandangnya, "dia akan menerima kehormatan lebih daripada yang lain."
"Tetapi dia tak akan berhasil!" isak Narcissa. "Bagaimana mungkin, kalau Pangeran Kegelapan sendiri?"
Bellatrix kaget, menahan napas. Narcissa tampaknya kehilangan keberanian.
"Aku cuma bermaksud mengatakan ... bahwa belum pernah ada yang berhasil ... Severus ... tolonglah ... kau, dari dulu, adalah guru favorit Draco ... kau teman lama Lucius ... kumohon ... kau favorit Pangeran Kegelapan, penasihatnya yang paling dipercaya ... maukah kau bicara kepadanya, membujuknya?"
"Pangeran Kegelapan tak bisa dibujuk, dan aku tak begitu bodoh sehingga mau membujuknya," kata Snape datar. "Aku tak bisa berpura-pura bahwa Pangeran Kegelapan tidak marah kepada Lucius. Luciuslah penanggung jawab waktu itu. Dia malah tertangkap, bersama entah berapa banyak yang lain, dan gagal mendapatkan kembali ramalannya. Ya, Pangeran Kegelapan marah, Narcissa, amat sangat marah."
"Kalau begitu aku benar, dia memilih Draco untuk balas dendam!" isak Narcissa. "Dia tak bermaksud Draco sukses, dia ingin Draco terbunuh dalam usahanya!"
Ketika Snape diam saja, Narcissa tampak kehilangan pertahanan dirinya yang hanya tersisa sedikit. Bangkit berdiri, dia terhuyung mendekati Snape dan menjambret bagian depan jubahnya. Wajahnya dekat ke wajah Snape, air matanya menetes ke dada Snape, dia tersedu, "Kau bisa melakukannya. Kau bisa melakukannya, alih-alih Draco, Severus. Kau akan berhasil, pasti kau berhasil, dan dia akan memberimu penghargaan melebihi yang pernah kami semua terima"
Snape memegang pergelangan tangan Narcissa dan menyingkirkan tangannya yang mencengkeram jubahnya. Menunduk memandang wajah Narcissa yang basah oleh air mata, dia berkata perlahan, "Dia bermaksud pada akhirnya aku yang melakukannya, kurasa. Tetapi dia berkeras Draco mencobanya lebih dulu. Soalnya, walaupun kelihatannya tak mungkin, seandainya Draco berhasil, aku akan bisa tinggal di Hogwarts sedikit lebih lama, menjalankan fungsiku yang berguna sebagai mata-mata."
"Dengan kata lain, tak jadi persoalan baginya kalau Draco terbunuh!"
"Pangeran Kegelapan sangat marah," . Snape mengulang pelan. "Dia gagal mendengar ramalan itu. Kita sama-sama tahu, Narcissa, dia tidak mudah memaafkan."
Narcissa merosot, terpuruk di kaki Snape, tersedu dan meratap di lantai.
"Anakku ... anak tunggalku ..."
"Kau mestinya bangga!" kata Bellatrix tanpa belas kasihan. "Kalau aku punya anak laki-laki, dengan senang hati akan kuserahkan untuk melayani Pangeran Kegelapan!"
Narcissa menjerit putus asa dan mencengkeram rambut pirangnya yang panjang. Snape membungkuk, memegang lengannya, mengangkatnya dan mendudukkannya kembali di sofa. Dia kemudian menuangkan anggur lagi untuk Narcissa dan menyorongkan gelasnya ke tangannya.
"Narcissa, sudah cukup. Minumlah ini. Dengarkan aku."
Tangis Narcissa mereda sedikit. Tangannya berguncang, sehingga anggur tumpah ke tubuhnya. Dengan gemetar dia meneguknya sedikit.
"Ada kemungkinan ... aku bisa membantu Draco."
Narcissa duduk tegak, wajahnya pucat pasi, matanya membesar.
"Severus oh, Severus -- kau mau membantunya? Maukah kau menjaganya, supaya dia tidak celaka?"
"Aku bisa mencoba."
Narcissa melempar gelasnya; gelas itu meluncur di atas meja ketika Narcissa merosot turun dari sofa dalam posisi berlutut di depan kaki Snape, menyambar tangan Snape dengan kedua tangannya dan menekankan bibirnya ke tangan itu.
"Kalau kau ada di sana untuk melindunginya ... Severus, maukah kau bersumpah? Maukah kau melakukan Sumpah Tak-Terlanggar?"
"Sumpah Tak-Terlanggar?" ekspresi Snape kosong, tak bisa ditebak: Bellatrix, sebaliknya, tertawa terbahak.
"Apa kau tidak mendengarkan, Narcissa? Oh, dia akan berusaha, aku yakin ... kata-kata kosong yang biasa, penghindaran yang biasa ... oh, atas perintah Pangeran Kegelapan, tentunya!"
Snape tidak memandang Bellatrix. Matanya yang hitam menatap mata biru Narcissa yang digenangi air mata, sementara Narcissa terus menggenggam tangannya.
"Tentu, Narcissa, aku mau melakukan Sumpah Tak-Terlanggar," katanya pelan. "Barangkali kakakmu bersedia menjadi Pengikat kita."
Mulut Bellatrix ternganga. Snape berlutut di depan Narcissa. Di bawah tatapan tercengang Bellatrix, tangan kanan mereka berpegangan.
"Kau perlu tongkat sihirmu, Bellatrix," kata Snape dingin.
Bellatrix mencabut tongkat sihirnya, masih tampak keheranan.
"Dan kau perlu mendekat sedikit," kata Snape. Bellatrix melangkah maju sehingga dia berdiri di depan mereka dan meletakkan ujung tongkat sihirnya ke tangan mereka yang bersatu. Narcissa bicara.
"Maukah kau, Snape, menjaga anakku Draco ketika dia berusaha memenuhi keinginan Pangeran Kegelapan?"
"Aku mau," kata Snape.
Lidah api tipis cemerlang meluncur dari tongkat sihir dan meliliti tangan mereka seperti kawat panas merah.
"Dan maukah kau, semampumu, melindunginya dari bahaya?"
"Aku mau," kata Snape.
Lidah api kedua meluncur dari tongkat sihir dan berjalin dengan yang pertama, menjadi rantai indah membara.
"Dan, jika diperlukan .... jika tampaknya Draco akan gagal ..." bisik Narcissa (tangan Snape mengejang dalam tangan Narcissa, namun Snape tidak menariknya),
"maukah kau menyelesaikan pekerjaan yang telah ditugaskan Pangeran Kegelapan kepada Draco?"
Sejenak hening. Bellatrix mengawasi, tongkat sihirnya di atas tangan mereka yang saling genggam, matanya terbelalak.
"Aku mau," kata Snape.
Wajah keheranan Bellatrix berpendar merah dalam cahaya lidah api ketiga, yang meluncur dari tongkat sihirnya, berjalin dengan yang lain dan mengikat kuat tangan mereka seperti tali, seperti ular api

Senin, 03 Februari 2014

01. MENTERI YANG LAIN


Harry Potter And The Half-Blood Prince

01. MENTERI YANG LAIN

Saat itu menjelang tengah malam dan perdana Menteri sedang duduk sendirian di kantornya, membaca laporan panjang yang lewat begitu saja melalui otaknya tanpa meninggalkan makna sedikit pun. Dia sedang menunggu telepon dari presiden Negara yang jauh, dan diantara bertanya-tanya kapan orang sialan itu akan menelepon dan berusaha menekan ingatan tak menyenangkan akan minggu yang sangat panjang, melelahkan, serta sulit, nyaris tak ada ruang tersisa di otaknya untuk hal-hal lain. Semakin dia berusaha memfokuskan pikiran pada halaman tercetak di depannya, semakin jelas Perdana Menteri bisa melihat wajah kegirangan salah satu lawan politiknya. Lawan politik yang satu ini telah muncul dalam berita hari itu, tak hanya menyebutkan satu per satu semua kejadian mengerikan yang terjadi sepanjang minggu lalu (lagi pula siapa yang perlu diingatkan), namun juga menjelaskan kenapa masing-masing musibah itu adalah kesalahan pemerintahan.
Denyut nadi Perdana Menteri bertambah cepat mengingat tuduhan-tuduhan ini, karena semuanya tidak adil dan tidak benar. Bagaimana mungkin pemerintahnya diharapkan bisa mencegah jembatan itu ambruk? Sungguh kelewatan kalau ada yang menuduh mereka tidak menyediakan cukup dana untuk jembatan. Jembatan itu belum lagi sepuluh tahun, dan para ahli yang paling top pun bingung, tak bisa menjelaskan kenapa jembatan itu mendadak putus jadi dua, menjerumuskan selusin mobil ke dalam sungai dalam di bawahnya. Dan beraninya orang menuduh bahwa kurang polisilah penyebab kedua pembunuhan sangat mengerikan yang dipublikasikan secara meluas? Atau bahwa pemerintah mestinya sudah bisa meramalkan terjadinya badai ajaib di West Country yang telah menelan begitu banyak korban baik jiwa maupun harta benda. Dan salahnyakah jika salah satu menteri mudanya, Herbert Chorley, telah memilih minggu itu untuk bersikap begitu ganjil sehingga sekarang dia akan melewatkan lebih banyak waktu bersama keluarganya?
"Suasana muram menyelimuti Negara ini," si lawan politik menyimpulkan, nyaris tanpa menyembunyikan seringai lebarnya.
Dan celakanya, ini betul sekali. Perdana Menteri merasakannya sendiri; orang-orang betul-betul tampak lebih merana daripada biasanya. Bahkan cuaca pun suram; banyak kabut dingin di tengah bulan juli ... ini tidak benar, ini tidak normal ...
Dia membalik laporan ke halaman dua, melihat laporan itu masih panjang, lalu menyerah. Seraya meregangkan lengan di atas kepala, dia melihat ke sekeliling kantornya dengan pilu. Kantornya bagus, dengan perapian pualam indah menghadap ke jendela-jendela panjang berbingkai, yang sekarang tertutup rapat gara-gara hawa dingin yang aneh. Dengan sedikit bergidik Perdana Menteri bangkit dan berjalan ke jendela, memandang kabut yang berkumpul dan menekan jendela. Saat itulah, ketika berdiri membelakangi ruangan, dia mendengar batuk pelan di belakangnya.
Dia membeku, hidungnya menempel pada bayangan wajahnya yang ketakutan di kaca jendela yang gelap. Dia mengenali batuk itu. Dia pernah mendengarnya sebelumnya. Dia berbalik, sangat perlahan, menghadap ruangan yang kosong.
"Halo?" katanya berusaha terdengar lebih berani daripada yang dirasakannya.
Sesaat dia membiarkan dirinya dikuasai harapan mustahil bahwa tak akan ada yang menjawabnya. Meskipun demikian, jawaban langsung terdengar, suara yang garing dan tegas yang kedengarannya seperti membaca pernyataan yang tertulis. Suara itu datangnya -- seperti yang telah diketahui Perdana Menteri waktu mendengar batuk yang pertama kali dari pria kecil bertampang kodok memakai wig perak panjang yang tergambar dalam lukisan cat minyak kecil kotor di sudut ruangan yang jauh.
"Kepala Perdana Menteri Muggle. Perlu sekali kita bertemu. Mohon segera ditanggapi. Salam, Fudge. Pria dalam lukisan memandang Perdana Menteri dengan ingin tahu.
"Er," kata Perdana Menteri, "ini bukan saat yang cocok untuk saya ... saya sedang menunggu telepon, soalnya ... dari presiden ne—"
"Itu bisa diatur-ulang," kata lukisan segera. Hati Perdana Menteri mencelos. Itu yang dia takutkan.
"Tetapi saya sungguh berharap bisa bicara-"
"Kita atur agar Presiden lupa menelepon anda. Alih-alih sekarang, dia akan menelepon besok malam," kata pria kecil itu. "Tolong segera menjawab Mr Fudge."
"Saya ... oh ... baiklah," kata Perdana Menteri lemah. "Ya, saya akan menemui Fudge."
Dia bergegas kembali ke mejanya, seraya meluruskan dasinya. Baru saja dia duduk dan mengatur agar ekspresi wajahnya tampak rileks dan tak terganggu, api hijau terang mendadak berkobar di perapiannya, di bawah rak pualamnya. Dia mengawasi, berusaha tidak menunjukkan keterkejutan ataupun ketakutan, ketika seorang pria gemuk muncul dalam kobaran api itu, berpusing secepat gasing. Beberapa detik kemudian, dia melompat keluar dari perapian ke permadani antik yang agak bagus, mengibaskan abu dan mantelnya yang panjang bergaris, topi bowler berwarna hijau-limau di tangannya.
"Ah ... Perdana Menteri," kata Cornelius Fudge, melangkah maju dengan tangan terjulur. "Senang bertemu anda lagi."
Perdana Menteri sejujurnya tak bisa membalas dengan ucapan yang sama, maka diam saja. Dia sama sekali tak senang bertemu Fudge, yang muncul dari waktu ke waktu. Kemunculannya sendiri sudah menakutkan, dan biasanya kalau Fudge muncul Perdana Menteri akan mendengar kabar yang sangat buruk. Lagipula, Fudge tampak jelas kelelahan. Dia lebih kurus, kepalanya lebih botak, rambutnya lebih banyak ubannya, dan wajahnya tampak kusut. Perdana Menteri sudah pernah melihat penampilan semacam ini pada banyak politikus sebelumnya, dan ini tak pernah menjadi pertanda baik.
"Bagaimana saya bisa membantu Anda?" tanyanya, sambil sekilas menjabat tangan Fudge dan memberi isyarat ke arah kursi yang paling keras di depan mejanya.
"Sulit mau mulai dari mana", gumam Fudge, seraya menarik kursi, duduk dan meletakkan topi bowler-nya di atas lututnya. "Minggu yang sungguh gila, sungguh gila..."
"Anda mengalami minggu yang buruk juga?" tanya Perdana Menteri kaku, berharap dengan berkata demikian dia sudah menyiratkan bahwa masalahnya sendiri sudah banyak, tanpa perlu ditambahi masalah Fudge.
"Ya, tentu saja," kata Fudge, mengusap matanya dengan letih dan memandang murung Perdana Menteri. "Saya mengalami minggu yang sama dengan Anda, Perdana Menteri. Jembatan Brockdale...pembunuhan keluarga Bones dan Vance...belum lagi kehebohan di West Country..."
"Anda—er—maksud saya, beberapa rakyat Anda terlibat dalam—dalam peristiwa-peristiwa itu, kan?"
Fudge memandang Perdana Menteri dengan tatapan yang agak tegang.
"Tentu saja mereka terlibat," katanya. "Mestinya Anda sudah menyadari apa yang terjadi?"
"Saya..."gagap Perdana Menteri.
Persis sikap seperti inilah yang membuatnya sangat membenci kunjungan Fudge. Bagaimanapun juga dia Perdana Menteri dan tak suka disudutkan sampai merasa seperti murid yang tak tahu apa-apa. Tetapi tentu saja, situasinya selalu begini sejak pertemuannya dengan Fudge pada malam pertamanya sebagai Perdana Menteri. Dia ingat jelas peristiwa itu, seakan baru terjadi kemarin, dan tahu itu akan menghantuinya sampai hari kematiannya.
Dia sedang berdiri sendirian di kantor ini, menikmati kemenangan yang berhasil diraihnya setelah bertahun-tahun diimpikan dan direncanakan, ketika didengarnya bunyi orang batuk di belakangnya, persis malam ini. Ketika dia berbalik ternyata lukisan kecil jelek itu berbicara kepadanya, memberitahunya bahwa Menteri Sihir akan datang dan memperkenalkan diri.
Wajar saja, saat itu dia mengira kampanye yang lama dan ketegangan pemilihan telah membuatnya sinting. Dia ngeri sekali ada lukisan berbicara kepadanya, ketika ada orang yang menyatakan diri sebagai penyihir melompat keluar dari perapian dan menjabat tangannya. Dia bungkam seribu bahasa selama Fudge menjelaskan bahwa ada penyihir yang masih tinggal secara rahasia di seluruh dunia, dan meyakinkan bahwa dia tak perlu memusingkan hal ini karena Kementerian Sihir bertanggung jawab untuk seluruh komunitas sihir dan mencegah populasi non-sihir tahu soal adanya penyihir ini. Ini, kata Fudge, pekerjaan sulit yang mencakup segala sesuatu dari pengaturan soal pertanggung jawaban penggunaan sapu terbang sampai mengendalikan populasi naga (Perdana Menteri ingat dia mencengkeram meja mencari pegangan agar tak jatuh mendengar ini). Fudge kemudian menepuk bahu Perdana Menteri yang masih kaget dengan gaya kebapakan.
"Tak perlu kuatir," katanya, "kemungkinan Anda tak akan bertemu saya lagi. Saya hanya akan mengganggu Anda jika ada sesuatu yang benar-benar serius terjadi di tempat kami, sesuatu yang akan berpengaruh terhadap Muggle—populasi non-sihir, menurut hemat saya. Kalau tidak, kita hidup sendiri-sendiri dalam damai. Dan harus saya katakan, Anda menerima ini jauh lebih baik daripada orang yang Anda gantikan. Dia berusaha melempar saya keluar dari jendela, mengira saya ini olok-olok yang dikirim oleh partai lawan."

Mendengar ini, akhirnya Perdana Menteri bisa bicara lagi.
"Jadi, Anda bukan olok-olok?"
Itu harapannya yang terakhir, harapan dalam keputusasaan.
"Bukan," kata Fudge lembut. "Bukan, sayang bukan. Lihat."
Dan dia mengubah cangkir teh Perdana Menteri menjadi tikus kecil.
"Tapi", kata Perdana Menteri menahan napas, mengawasi cangkirnya mengunyah-ngunyah, "tetapi kenapa—kenapa tak ada yang memberitahu saya--?"
"Menteri Sihir hanya memperlihatkan diri kepada Perdana Menteri Muggle yang sedang menjabat," kata Fudge, menyelipkan kembali tongkat sihirnya ke dalam jaketnya. "Kami menganggap itu cara terbaik untuk menjaga kerahasiaan."
"Tapi kalau begitu," Perdana Menteri mengembik, "kenapa tak ada mantan perdana menteri yang memperingatkan saya--?"
Mendengar ini, Fudge betul-betul tertawa.
"Perdana Menteri yang baik, apakah Anda akan memberitahu orang lain?"
Masih terkekeh, Fudge melemparkan sejumput bubuk ke dalam perapian, melangkah ke dalam lidah api hijau-zamrud, dan menghilang dengan bunyi deru. Perdana Menteri berdiri tertegun, tak bergerak, dan sadar bahwa dia tak akan pernah, seumur hidupnya, berani menyebut-nyebut pertemuan ini kepada orang lain, karena siapa sih di dunia ini yang akan mempercayainya?
Keterkejutannya perlu beberapa waktu untuk memudar. Selama beberapa waktu dia berusaha meyakinkan diri bahwa Fudge betul-betul halusinasi yang disebabkan oleh kekurangan tidur selama kampanye pemilihan yang sangat meletihkan. Dalam usaha sia-sia untuk menyingkirkan semua yang mengingatkannya akan pertemuan yang membuat tidak nyaman ini, dia memberikan tikus kecilnya kepada keponakannya yang senang sekali dan menginstruksikan kepada sekretaris pribadinya untuk menurunkan lukisan laki-laki kecil jelek yang telah mengumumkan kedatangan Fudge. Meskipun demikian, betapa kecewanya Perdana Menteri, lukisan itu ternyata tak mungkin dipindahkan. Ketika beberapa tukang kayu, satu atau dua ahli bangunan, seorang sejarawan seni, dan ketua bendahara semuanya telah mencoba tanpa hasil mencopot lukisan itu dari dinding, Perdana Menteri menyerah dan hanya berharap lukisan itu tetap bergeming dan tak bersuara selama sisa masa jabatannya. Kadang-kadang dia yakin sekali melihat dari sudut matanya penghuni lukisan itu menguap atau menggaruk hidungnya; bahkan, sekali atau dua kali, dia berjalan keluar begitu saja dari lukisannya dan hanya meninggalkan sehelai kanvas berwarna cokelat-lumpur. Meskipun demikian Perdana Menteri telah melatih diri agar tidak terlalu sering melihat lukisan itu, dan selalu memberitahu dirinya dengan tegas bahwa matanya mempermainkannya jika sesuatu seperti ini terjadi.
Kemudian, tiga tahun yang lalu, pada malam yang mirip sekali dengan malam ini, Perdana Menteri sedang sendirian di dalam kantornya ketika lukisan itu sekali lagi mengumumkan Fudge sebentar lagi akan datang. Fudge muncul begitu saja dari perapian, basah kuyup dan dalam keadaan cukup panik. Sebelum Perdana Menteri sempat bertanya kenapa air menetes-netes dari pakaiannya membasahi karpetnya, Fudge sudah mulai berteriak-teriak tentang penjara yang belum pernah didengar Perdana menteri, seorang laki-laki bernama "Serius" Black, sesuatu yang kedengarannya seperti Hogwarts dan seorang anak laki-laki bernama Hary Potter, tak satu pun masuk akal bagi Perdana Menteri.
"...Saya baru datang dari Azkaban," kata Fudge terengah, menuangkan cukup banyak air dari pinggiran topi bowlernya ke dalam sakunya. "Di tengah Laut Utara, Anda tahu, pelarian yang sangat gawat...para Dementor gempar---"dia bergidik "---belum pernah ada yang berhasil kabur dari sana. Bagaimanapun juga, saya harus datang kepada Anda, Perdana menteri. Black diketahui sebagai pembunuh Muggle dan mungkin merencanakan bergabung dengan Anda-Tahu-Siapa!" Dia menatap Perdana Menteri tanpa harapan selama beberapa saat, kemudian berkata, "Nah, duduklah, duduklah, sebaiknya saya beritahu Anda...silahkan minum wiski..."
Perdana Menteri agak sebal disuruh duduk di kantornya sendiri, apalagi ditawari wiskinya sendiri, namun dia toh duduk juga. Fudge telah mencabut tongkat sihirnya, menyihir dua gelas penuh cairan kekuningan dari udara kosong, mendorong salah satunya ke tangan Perdana Menteri, dan menarik kursi.
Fudge berbicara selama lebih dari satu jam. Dia menolak menyebutkan satu nama tertentu, dan alih-alih menyebutnya dia menuliskannya pada secarik perkamen, yang kemudian disorongkannya ke tangan Perdana Menteri yang bebas-wiski. Ketika akhirnya Fudge berdiri untuk pergi, Perdana Menteri juga berdiri.
"Jadi menurut Anda..." dia menyipitkan mata membaca nama di tangan kirinya, "Lord Vol—"
"Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut!" gertak Fudge.
"Maaf...menurut Anda, Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut nasih hidup, kalau begitu?"
"Yah, kata Dumbledore begitu," kata Fudge, seraya mengancingkan mantel bergarisnya di bawah dagunya, ´tapi kami belum pernah berhasil menemukannya. Jika Anda tanya pendapat saya, dia tidak berbahaya kecuali dia punya pendukung. Jadi, Black-lah yang harus kita cemaskan. Nah, saya harap kita tidak bertemu lagi, Perdana Menteri! Selamat malam!"
Nyatanya mereka bertemu lagi. Kurang dari setahun yang lalu, Fudge yang tampak kacau muncul begitu saja entah dari mana Ruang Kabinet untuk memberitahu Perdana Menteri bahwa ada gangguan dalam Piala dunia Kwidditch (kedengarannya begitu) dan bahwa beberapa Muggle "terlibat", namun Perdana Menteri diminta agar tidak khawatir, fakta bahwa Tanda Kau-Tahu-Siapa terlihat lagi tidka berarti apa-apa. Fudge yaakin itu insiden yang tak ada hubungannya dan Kantor Hubungan Muggle sedang menangani semua modifikasi memori sementara mereka berbicara itu.
"Oh, dan saya hampir lupa," Fudge menambahkan. "Kami mengimpor tiga naga asing dan satu sphinx untuk Turnamen Triwizard, cukup rutin, tapi Departemen Pengaturan dan Pengawasan Makhluk-Makhluk Gaib memberitahu saya, dalam buku peraturan tercantum bahwa kami harus memberitahu Anda kalau kami memasukkan makhluk-makhluk sangat berbahaya ke dalam negara ini."
"Saya—apa—naga?" gagap Perdana Menteri.
"Ya, tiga," kata Fudge. "Dan satu sphinx. Nah, selamat siang."
Perdana Menteri sungguh berharap bahwa naga dan sphinx adalah yang terburuk, namun ternyata tidak. Kurang dari dua tahun kemudian, Fudge muncul dari perapian lagi, kali dengan berita bahwa ada pelarian besar-besaran dari Azkaban.
"Pelarian besar-besaran?" Perdana Menteri mengulang parau.
"Tak perlu kuatir, tak perlu kuatir!" teriak Fudge. Satu kakinya sudah di dalam lidah api. "Kami akan menangkap mereka dalam waktu singkat—hanya saja saya pikir anda perlu tahu!"
Dan sebelum Perdana Menteri bisa berteriak, "Tunggu dulu!" Fudge telah menghilang dalam siraman bunga api hijau.
Apa pun yang dikatakan pers dan partai lawan, Perdana Menteri bukanlah orang bodoh. Tidak luput dari perhatiannya bahwa, kendati Fudge meyakinkannya agar tenang dalam pertemuan pertama mereka, mereka kini agak sering bertemu, dan juga dalam setiap kunjungan Fudge semakin bingung. Walaupun dia tak suka memikirkan Menteri Sihir (atau, seperti dia selalu menyebut Fudge dalam kepalanya, Menteri yang Lain), Perdana Menteri mau tak mau cemas bahwa kali berikutnya Fudge muncul, dia akan membawa berita yang lebih menakutkan. karena itu, kedatangan Fudge, yang melangkah keluar dari perapian sekali lagi, tampak berantakan dan ketakutan dan sangat heran bahwa Perdana Menteri tidak tahu kenapa persisnya dia berada di sana, adalah hal terburuk yang terjadi selama seminggu yang luar biasa suram ini.
"Bagaimana mungkin saya tahu apa yang sedang terjadi di—er—komunitas sihir?" bentak Perdana Menteri sekarang. "Saya punya negara untuk diurus dan cukup banyak masalah saat ini tanpa—"
"Masalah kita sama," potong Fudge. "Jembatan Brockdale tidak rusak. Dan itu bukan angin ribut. Pembunuhan itu bukan perbuatan Muggle. Dan keluarga Herbert Chorley akan lebih aman tanpa dia. Kami saat ini sedang mengatur untuk memindahkannya ke Rumah Sakit St Mungo untuk Penyakit dan Luka-Luka Sihir. Perpindahan akan dilaksanakan malam ini."
"Apa maksud Anda...saya rasa saya tidak...apa?" gertak Perdana Menteri.
Fudge menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Perdana Menteri, saya sungguh menyesal terpaksa harus memberitahu Anda bahwa Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut telah kembli."
"Kembali? Sewaktu Anda mengatakan ´kembali´...dia hidup? Maksud saya—"
Perdana Menteri mencari-cari dalam ingatannya rincian percakapan mengerikan tiga tahun sebelumnya, ketika Fudge memberitahunya tentang penyihir yang paling ditakuti, penyihir yang telah melakukan seribu tindak kriminal sebelum menghilang secara misterius lima belas tahun yang lalu.
"Ya, hidup," kata Fudge. "Maksud saya—saya tak tahu—apakah orang bisa dikatakan hidup kalau dia tak bisa dibunuh? Sebenarnya saya tidak mengerti, dan Dumbledore tidak mau menjelaskan dengan gamblang—tapi bagaimanapun juga, dia jelas punya tubuh dan bisa berjalan dan bicara dan membunuh, maka saya kira untuk keperluan pembicaraan kita, ya, dia hidup."
Perdana Menteri tidak tahu harus menanggapi bagaimana, namun kebiasaan yang telah melekat pada dirinya untuk selalu tampil serba tahu tentang topik apa saja yang muncul, membuatnya mencari-cari detail yang bisa diingatnya dalam pembicaraan mereka sebelumnya.
"Apakah Serius Black bersama—er—Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut?"
"Black?Black?" kata Fudge bingung, memutar-mutar topi bowlernya dengan cepat dengan jari-jarinya. "Sirius Black, maksud Anda? Jenggot Merlin, tidak, Black sudah meninggal. Ternyata kami—er—keliru tentang Black. Dia tidak bersalah. Dan dia juga tidak bersekutu dengan Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut. Maksud saya," dia menambahkan membela diri, memutar topinya lebih cepat, "semua bukti menunjuk—kami punya lebih dari lima puluh saksi mata—tapi bagaimanapun juga, seperti yang saya katakan, dia sudah meninggal. Dibunuh, sebenarnya. Di kantor Kementrian Sihir. Akan ada penyelidikan, sebetulnya..."
Perdana Menteri heran sendiri ketika dia merasa kasihan kepada Fudge saat itu. Namun rasa kasihannya segera dipudarkan oleh rada puas diri, saat terpikir olehnya bahwa, sekalipun dia tak bisa muncul dari dalam perapian, tidak pernah terjdi pembunuhan departemen pemerintahan mana pun di bawah tanggung jawabnya...belum, paling tidak...
Sementara Perdana Menteri sembunyi-sembunyi mengetuk papan mejanya, Fudge melanjutkan, "Tapi Black sudah lewat. Persoalannya sekarang, kita sedang perang, Perdana Menteri, dan harus ada langkah-langkah yang diambil."
"Perang?" ulang Perdana Menteri gugup. "tentunya pernyataan itu agak berlebihan?"
"Para pengikut Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut yang kabur dari Azkaban Januari lalu sekarang sudah bergabung dengannya," kata Fudge, berbicara makin lama makin cepat, dan memutar topinya begitu cepatnya sehingga seperti pusaran hijau-limau. "Sejak bergerak terang-terangan, mereka menyebabkan malapetaka di mana-mana. Jembatan Brockdale—dia yang melakukannya, Perdana Menteri, dia mengancam akan mengadakan pembunuhan massal Muggle kalaus aya tidak mau menyisih untuknya dan—"
"Astaga, jadi kesalahan Anda-lah orang-orang ini terbunuh dan saya harus menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang tiang-penyangga berkarat dan perpanjangan-sendi keropos dan entah apa lagi!" kata Perdana Menteri berang.
"Salah saya!" kata Fudge, wajahnya memerah. "apakah Anda mau mengatakan Anda mau memfitnah saya?"
"Barangkali tidak," kata Perdana Menteri, bangkit berdiri dan berjalan mengelilingi ruangan, tapi saya akan mengerahkan segala upaya untuk menangkap si penjahat sebelum dia melakukan kekejian seperti itu!"
"Apakah Anda benar-benar mengira saya belum mengerahkan segala upaya? tuntut Fudge panas. "Semua Auror di Kementrian sudah—dan sedang—berusaha mencarinya dan menangkapi para pengikutnya, tapi yang kita bicarakan ini salah satu penyihir paling hebat sepanjang masa, penyihir yang berhasil menghindari penangkapan selama hampir tiga dekade!"
"Jadi, saya rasa Anda akan memberitahu saya dia menyebabkan angin ribut di West Country juga?" kata Perdana Menteri, kemarahannya meningkat seiring setiap langkahnya. Sungguh mengesalkan berhasil mengetahui alasan terjadinya malapetaka mengerikan ini dan tidak bisa memberitahu publik, hampir sama buruknya dengan kalau itu kesalahan pemerintahan.
"Itu bukan angin ribut," kata Fudge merana.
"Maaf!" bentak Perdana Menteri, sekarang benar-benar mengentakkan kaki. "Pohon-pohon tercabut, atap-atap beterbangan, tiang-tiang lampu bengkok, luka-luka mengerikan—"
"Itu ulah Pelahap Maut," kata Fudge. "Para pengikut Dia yang Namanya Tak Boleh disebut...dan kami mencurigai keterlibatan raksasa."
Perdana Menteri langsung berhenti berjalan seolah dia menabrak dinding yang tak kelihatan.
"Keterlibatan apa?"
Fudge meringis. "Dia menggunakan raksasa kali lalu, ketika ingin memberi efek luar biasa. Kantor Informasi yang Keliru telah bekerja dua puluh empat jam sehari, kami mengirim tim-tim Obliviator untuk memodifikasi memori semua Muggle yang melihat apa yang sesungguhnya terjadi, sebagian besar personel Pengaturan dan Pengawasan Makhluk-Makhluk Gaib berkeliaran di Somerset, tapi kami belum berhasil menemukan raksasanya—sungguh malapetaka!"
"Malapetaka besar!" kata Perdana Menteri gusar.
"Saya tidak membantah bahwa kami semua terpukul di Kementrian," kata Fudge. "dengan semua kejadian itu dan kemudian kehilangan Amelia Bones."
"Kehilangan siapa?"
"Amelia Bones, kepala Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir. Kami menduga Dia yang Namanya Tak bOleh disebut sendiri yang membunuhnya, karena Amelia penyihir yang sangat berbakat—dan semua bukti menunjukkan dia melawan dengan gigih."
Fudge berdehem dan, dengan susah payah, kelihatannya, berhenti memutar topi bowler-nya.
"Tapi pembunuhan itu ada di koran-koran," kata Perdana Menteri, sejenak marahnya terlupakan. "Koran kami. Amelia Bones...hanya dikatakan dia wanita setengah-baya yang hidup sendirian. Pembunuhan yang—yang mengerikan, kan? Agak banyak dipublikasikan. Polisi bingung, soalnya."
Fudge menghela napas. "Yah, tentu saja mereka bingung. Terbunuh dalam kamar yang dikunci dari dalam, kan? Kami sebaliknya, tahu persis siapa yang melakukannya, walaupun itu tidak membuat kami jadi selangkah lebih maju dalam usaha menangkapnya. Dan kemudian Emmeline Vance, barangkali Anda tidak dengar tentang yang ini—"
"Oh ya, saya dengar!" kata Perdana Menteri. "Terjadinya malah hanya dibalik tikungan dekat sini. Koran-koran mendapat berita seru. Pelanggaran Hukum di halaman belakang kantor Perdana Menteri—"
"Dan seakan itu semua belum cukup," kata Fudge, hampir-hampir tidak mendengarkan Perdana Menteri, "masih ada para Dementor yang berkeliaran, menyerang orang di mana-mana..."
Suatu hari di saat yang lebih menyenangkan, kalimat ini pastilah tak dimengerti Perdana Menteri, namun sekarang dia lebih bijaksana.
"Bukankah para Dementor menjaga para napi di Azkaban?" dia bertanya hati-hati.
"Memang, dulu," kata Fudge letih. "Tapis ekarang tidak lagi. Mereka meninggalkan penjara dan bersekutu dengan Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut. Saya tak akan berpura-pura bahwa ini bukan pukulan berat."
"Tapi," kata Perdana Menteri, mulai merasa ngeri, bukankah Anda memberitahu saya mereka makhluk-makhluk yang menyedot harapan dan kebahagiaan dari orang-orang?"
"Betul. Dan mereka berkembang biak. Itulah yang menyebabkan adanya semua kabut ini."
Perdana Menteri, yang lututnya mendadak lemas, ternyata duduk di kursi terdekat. Membayangkan makhlu-makhluk tak kelihatan melayang-layang di seluruh kota dan pedesaan, menyebarkan keputusasaan dan hilang harapan di antara para pemilihnya, membuatnya pusing.
"Dengar, Fudge—Anda harus melakukan sesuatu! Ini tanggung jawab Anda sebagai Menteri Sihir!"
"Perdana Menteri yang baik, masa Anda mengira saya masih tetap menjabat Menteri Sihir setelahs emua kejadian ini? Saya dipecat tiga hari yang lalu. Seluroh komunitas sihir sudah berteriak menuntut pengunduran diri saya selama dua minggu ini. Belum pernah saya melihat mereka bersatu seperti itu selama masa jabatan saya! kata Fudge, berusaha memberanikan diri tersenyum.
Perdana Menteri selama beberapa saat kehilangan kata-kata. Kendati dia jengkel ditempatkan dalam posisi terpojok, dia masih merasa agak kasihan terhadap laki-laki bertampang kuyu yang duduk di depannya.
"Saya ikut prihatin," katanya akhirnya. "kalau ada yang bisa saya lakukan?"
"Anda baik sekali, Perdana Menteri, tapi tak ada yang bisa Anda lakukan. Saya dikirim ke sini malam ini untuk memberitahu Anda perkembangan situasi terakhir dan memperkenalkan Anda kepada pengganti saya. Saya pikir mestinya dia sudah di sini sekarang, tapi tentu saja dia sangat sibuk, dengan begitu banyak kejadian."
Fudge berpaling memandang lukisan laki-laki kecil jelek memakai wig panjang ikal perak, yang sedang mengorek telinganya dengan ujung pena-bulu.
Menangkap mata Fudge, lukisan itu berkata, "Dia akan ke sini sebentar lagi, dia sedang menyelesaikan surat kepada Dumbledore."
"Semoga dia beruntung," kata Fudge, terdengar getir untuk pertama kalinya. "Aku menulis kepada Dumbledore dua kali sehari selama dua minggu terakhir ini, tetapi dia bergeming. Kalau saja dia bersedia membujuk anak itu, aku mungkin masih...yah, barangkali Scrimgeour akan lebih berhasil."
Baru saja Fudge terdiam dan tampak sedih, keheningan dipecahkan oleh lukisan, yang tiba-tiba saja berbicara dengan suara garing dan resmi.
"kepala Perdana Menteri Muggle. Memohon pertemuan. Urgen. Tolong segera ditanggapi. Rufus Scrimgeour, Menteri Sihir."
"Ya,ya, baik," kata Perdana Menteri dengan pikiran kacau, dan belum sempat dia bergerak, api dalam perapiannya sudah berubah hijau-zamrud lagi, berkobar dan memperlihatkan penyihir berpusar yang kedua di tengahnya, mengeluarkannya beberapa saat kemudian di atas permadani antik. Fudge bangkit dan setelah ragu-ragu sejenak, Perdana Menteri ikut bangkit, mengawasi penyihir yang baru datang menegakkan diri, mengebaskan debu dari jubah hitamnya yang panjang, dan memandang berkeliling.
Pikiran bodoh pertama Perdana Menteri adalah bahwa Rufus Scrimgeour tampak seperti singa tua. Rambutnya yang berwarna kuning-kecoklatan dihiasi uban di sana-sini, demikian juga alisnya yang lebat. Matanya tajam kekuningan di belakang kacamata berbingkai kawat, dan dia memiliki keanggunan yang menyiratkan dia sanggup berjalan jauh dan melompat, walaupun jalannya sedikit timpang. Kesan langsung yang timbul adalah dia cerdas dan tegar. Perdana Menteri membatin dia memahami kenapa komunitas sihir lebih memilih Scrimgeour daripada Fudge sebagai pemimpin dalam situasi berbahaya begini.
"Apa kabar?" sambut Perdana Menteri sopan, mengulurkan tanagnnya.
Scrimgeour menjabatnya singkat, matanya meneliti seluruh ruangan, kemudian dia menarik keluar tongkat sihir dari balik jubahnya.
"Fudge sudah memberitahu Anda semuanya?" dia bertanya, berjalan ke pintu dan mengetuk lubang kuncinya dengan tongkat sihirnya. Perdana Menteri mendengar bunyi "ceklek" pintunya yang mengunci.
"Er—ya," kata Perdana Menteri. "Dan jika Anda tidak keberatan, saya lebih suka pintu tidak terkunci"
"Saya lebih suka tidka terganggu," kata Scrimgeour pendek, "atau diintip," dia menambahkan, mengacungkan tongkat sihirnya ke deretan jendela sehingga gordennya menutup semua. "Baik, nah, saya sibuk sekali, jadi kita langsung ke pokok masalahnya. Yang pertama, kita perlu merundingkan keamanan Anda."
Perdana Menteri berdiri tegak dan menjawab, "Saya sudah puas dengan sistem keamanan yang saya miliki, terima ka—"
"Kami tidak," potong Scrimgeour. "Rawan sekali bagi para Muggle kalau Perdana Menteri mereka sampai berada di bawah Kutukan Imperius. Sekretaris baru Anda di kantor luar—"
"Saya tidak bersedia memberhentikan Kingsley Shacklebolt, kalau itu yang Anda usulkan!" kata Perdana Menteri panas. "Dia sangat efisien, menyelesaikan pekerjaan dua kali lebih cepat daripada yang lain—"
"Itu karena dia penyihir," kata Scrimgeour, tanpa senyum sedikit pun. "Auror sangat terlatih, yang ditugaskan untuk melindungi Anda."
"Tunggu sebentar!," tukas Perdana Menteri. "Anda tak bisa begitu saja memasukkan orang-orang Anda di kantor saya, saya yang menentukan siapa-siapa yang bekerja untuk saya—"
"Bukankah tadi Anda katakan Anda puas dengan Shcklebolt?" kata Scrimgeour dingin.
"Memang—maksud saya, tadinya—"
"Kalau begitu tak ada masalah,kan?" kata Scrimgeour.
"Saya...yah, asal kerja Shacklebolt tetap..er..hebat," kata Perdana Menteri tertegun-tegun.
"Sekarang tentang Herbert Chorley—menteri muda Anda," dia melanjutkan. "Yang menghibur publik dengan menirukan bebek."
"Bagaimana dengan dia?" tanya Perdana Menteri.
"Jelas sekali itu disebabkan oleh Kutukan Imperius yang tidka sempurna,´ kata Scrimgeour. "Kutukan itu mengacaukan otaknya, tapi dia masih bisa berbahaya."
"Dia cuma meleter!" kata Perdana Menteri lemah. " Tentunya istirahat sedikit...barangkali mengurangi minum..."
"Tim Penyembuh dari Rumah Sakit St Mungo untuk Penyakit dan Luka-Luka Sihir sedang memeriksanya sementara kita bicara ini. Sejauh ini dia sudah berusaha mencekik tiga di antara mereka," kata Scrimgeour. "Saya rasa paling baik kita pindahkan dia dari masyarakat Muggle untuk sementara waktu."
"Saya...yah...dia akan sembuh, kan? kata Perdana Menteri cemas. Scrimgeour hanya mengangkat bahu, sudah bergerak ke arah perapian.
"Nah, hanya itu yang ingin saya sampaikan. Saya akan mengabarkan perkembangan yang terjadi kepada Anda, Perdana Menteri—atau paling tidak, saya barangkali akan terlalu sibuk untuk bisa datang sendiri, dalam hal ini saya akan mengirim Fudge ke sini. Dia sudah sepakat tetap di Kementrian dalamkapasitas sebagai penasihat."
Fudge berusaha tersenyum, namun gagal, jadinya dia cuma seperti orangs akit gigi; Scrimgeour sudah mencari-cari dalam sakunya bubuk misterius yang mengubah warna api jadi hijau. Perdana Menteri memandang tak berdaya mereka berdua sejenak, kemudian kata-kata yang dicoba ditahannya sepanjang malam ini akhirnya meledak keluar.
"Tapi astaga—Anda berdua kan penyihir! Anda bisa melakukan sihir! Tentunya Anda bisa membereskan—yah—apa saja!"
Scrimgeour berputar perlahan di tempatnya berdiri dan betukar pandang tak percaya dengan Fudge, yang kali ini benar-benar tersenyum ketika dia berkata dengan baik hati, "Persoalannya, pihak satunya itu juga bisa sihir, Perdana Menteri!"
Dan dengan kata-kata itu, kedua penyihir melangkah bergantian ke dalam api berwarna hijau cemerlang dan lenyap.