Halaman

Selasa, 04 Februari 2014

02. SPINNER´S END


02. SPINNER´S END

Di tempat yang berjarak berkilo-kilo meter, kabut dingin yang menekan jendela Perdana Menteri melayang di atas sungai kotor yang berkelok-kelok sepanjang tepian yang ditumbuhi semak dengan sampah berserakan. Sebuah cerobong besar, peninggalan penggilingan yang sudah tak terpakai, menjulang, seperti bayangan mengerikan. Tak ada suara selain desah air hitam dan tak ada tanda-tanda kehidupan kecuali seekor rubah kurus yang menyelinap menuruni tepian sungai, mengendus-endus penuh harap bungkus kentang dan ikan goreng di antara rerumputan tinggi.
Namun kemudian, dengan bunyi pop pelan, sosok ramping berkerudung tiba-tiba muncul di tepi sungai. Si rubah membeku, matanya yang waspada tertuju pada wujud baru yang aneh ini. Sosok itu tampak memperhatikan keadaan sekelilingnya sesaat, kemudian berjalan dengan langkah-langkah ringan dan cepat, mantel panjangnya berkeresek di atas rumput.
Terdengar bunyi pop kedua yang lebih keras, dan satu lagi sosok berkerudung muncul.
"Tunggu!"
Seruan parau ini mengejutkan si rubah, yang sedang mengendap nyaris rata di bawah semak. Rubah itu melompat dari tempat persembunyiannya dan berlari menaiki tebing. Seleret cahaya hijau menyambar, terdengar dengkingan, dan si rubah terjatuh kembali di tanah, mati.
Sosok kedua membalik binatang itu dengan jari-jari kakinya.
"Cuma rubah," kata suara Wanita -- lega dari bawah kerudung. "Kukira tadi mungkin Auror-Cissy, tunggu!"
Namun buruannya, yang tadi berhenti dan menoleh ketika cahaya menyambar, sudah merayap memanjat tebing tempat si rubah tadi tergelincir.
"Cissy Narcissa dengarkan aku--"
Wanita kedua berhasil mengejar yang pertama dan menyambar lengannya, namun si wanita pertama menariknya lepas.
"Pulanglah, Belia!"
"Kau harus mendengarkan aku!"
"Aku sudah mendengarkan. Aku sudah mengambil keputusan. Tinggalkan aku sendiri."
Wanita bernama Narcissa mencapai tepian sungai. Di tempat itu pagar tua memisahkan sungai itu dari jalan batu sempit. Wanita yang lain, Bella, langsung menyusulnya. Mereka berdiri berdampingan memandang ke seberang jalan, ke deretan-deretan rumah bata kumuh, jendela-jendelanya suram dan tertutup dalam kegelapan.
"Dia tinggal di sini?" tanya Bella dengan suara menghina. "Di sini? Di kawasan kumuh Muggle ini? Kita pasti orang pertama bangsa kita yang menginjakkan kaki--"
Namun Narcissa tidak mendengarkan; dia telah menyelinap melewati celah di pagar berkarat dan bergegas menyeberang jalan.
"Cissy, tunggu!"
Bella menyusul, mantelnya melambai di belakangnya, dan melihat Narcissa berlari sepanjang jalan sempit di antara rumah-rumah, masuk ke jalan sempit yang nyaris identik. Beberapa lampu jalanan tidak menyala; kedua wanita ini berlari bergantian melewati jalanan yang diterangi seberkas cahaya dan tempat-tempat yang gelap gulita. Si pengejar berhasil mengejar buruannya tepat ketika dia akan berbelok lagi, kali ini dia berhasil menangkap lengannya dan membalikkan tubuhnya, sehingga mereka berhadapan.
"Cissy, kau tak boleh melakukan ini, kau tak bisa memercayainya--"
"Pangeran Kegelapan memercayainya, kan?"
"Pangeran Kegelapan ... kurasa ... keliru," Bella tersengal, dan sekejap matanya berkilat di bawah kerudungnya ketika dia memandang berkeliling untuk memastikan mereka benar-benar berdua saja. "Bagaimanapun juga, kita sudah dipesan tidak boleh memberitahukan rencana ini kepada siapa pun. Ini pengkhianatan terhadap perintah Pangeran Kegel--"
"Lepaskan, Bella!" gertak Narcissa dan dia mencabut tongkat sihir dari bawah mantelnya, mengacungkannya dengan mengancam ke wajah pengejarnya. Bella hanya tertawa.
"Cissy, kakakmu sendiri? Kau tak akan--"
"Tak ada lagi yang tak akan kulakukan!" Narcissa mendesah, ada nada histeris dalam suaranya, dan begitu dia menebaskan tongkatnya seperti pisau, ada sambaran cahaya lagi. Bella melepas lengan adiknya seakan tangannya terbakar.
"Narcissa!"
Tetapi Narcissa telah berlari meninggalkannya. Seraya menggosok-gosok tangannya, Bella mengejarnya lagi, kali ini menjaga, jarak, ketika mereka masuk lebih jauh dalam labirin rumah-rumah bata tanpa penghuni. Akhirnya Narcissa bergegas menyusuri jalan bernama Spinner's End -- Ujung Pemintal. Di atas jalan itu cerobong penggilingan tampak menjulang, seperti jari raksasa yang sedang memberi teguran. Langkah-langkahnya bergaung di atas jalan batu ketika dia melewati jendela-jendela yang kacanya pecah dan ditutup papan, sampai dia tiba di rumah paling akhir. Di rumah itu ada cahaya temaram dari balik jendela bergorden di, sebuah ruangan di lantai bawah.
Dia telah mengetuk pintu sebelum Bella, mengutuk pelan, berhasil menyusulnya. Bersama-sama mereka berdiri menunggu, sedikit terengah, menghirup bau sungai kotor yang terbawa angin malam ke hidung mereka. Selewat beberapa saat mereka mendengar gerakan di balik pintu dan pintu membuka secelah. Dari celah sempit itu tampak seorang pria memandang mereka, pria dengan rambut panjang terbelah di tengah, seperti gorden yang membingkai wajahnya yang pucat dan matanya yang hitam.
Narcissa melempar kerudung kepalanya ke belakang. Wajahnya pucat sekali sehingga tampaknya bersinar dalam kegelapan; rambut pirangnya yang panjang dan terjurai di punggungnya membuatnya tampak seperti orang tenggelam.
"Narcissa!" kata pria itu, membuka pintu sedikit lebih lebar, sehingga cahaya mengenai dia dan juga kakaknya. "Sungguh kejutan menyenangkan!"
"Severus," katanya dalam bisikan tegang. "Boleh aku bicara denganmu? Penting sekali."
"Tentu saja."
Pria itu mundur agar Narcissa bisa melewatinya masuk ke dalam rumah. Kakaknya yang masih berkerudung ikut masuk tanpa dipersilakan.
"Snape " katanya pendek ketika melewatinya
"Bellatrix," balasnya, mulutnya yang tipis melengkung menjadi senyum agak mengejek ketika dia menutup pintu rapat-rapat di belakang mereka.
Mereka masuk ke ruang duduk mungil, yang memberi kesan sel gelap berperedam. Seluruh dindingnya dipenuhi buku, sebagian besar buku-buku tua dengan sampul kulit hitam atau cokelat; sebuah sofa usang, kursi berlengan tua, dan meja reyot berkumpul dalam cahaya temaram yang disorotkan oleh lampu lilin yang tergantung di langit-langit. Tempat ini kesannya telantar, seakan biasanya tidak dihuni.
Snape memberi isyarat agar Narcissa duduk di sofa. Narcissa membuka mantelnya, melemparnya, dan duduk, memandang tangannya yang putih gemetar terkatup di pangkuannya. Bellatrix menurunkan kerudungnya lebih pelan. Jika adiknya berkulit putih, kulitnya gelap, dengan mata berpelupuk tebal dan rahang kuat. Dia tak melepaskan pandangan dari Snape ketika bergerak untuk berdiri di belakang Narcissa.
"Nah, apa yang bisa kulakukan untukmu?" tanya Snape, seraya duduk di kursi berlengan di hadapan kedua kakak-beradik itu.
"Kita ... kita sendiri, kan?" Narcissa bertanya pelan.
"Ya, tentu saja. Wormtail ada di sini, tapi tikus tidak masuk hitungan, kan?"
Snape mengacungkan tongkat sihirnya ke dinding buku di belakangnya dan, dengan bunyi letupan, sebuah pintu rahasia menjeblak terbuka, memperlihatkan sebuah tangga sempit, di atasnya seorang pria kecil berdiri membeku.
"Seperti yang jelas telah kau ketahui, Wormtail, ada tamu," kata Snape santai.
Pria itu merayap dengan membungkuk menuruni beberapa anak tangga terakhir dan masuk ke dalam ruangan. Matanya kecil, berair, hidungnya runcing, dan senyumnya tidak menyenangkan. Tangan kirinya mengelus tangan kanannya, yang kelihatannya seakan terbungkus sarung tangan perak terang.
"Narcissa!" katanya, dengan suara melengking, "dan Bellatrix! Sungguh menyenangkan --"
"Wormtail akan mengambilkan minuman, jika kalian mau minum," kata Snape. "Dan kemudian dia akan kembali ke kamarnya."
Wormtail berjengit seakan Snape melemparnya dengan sesuatu.
"Aku bukan pembantumu!" lengkingnya, menghindari mata Snape.
"Masa? Setahuku Pangeran Kegelapan menempatkanmu di sini untuk membantuku."
"Untuk membantu, ya tetapi bukan untuk membuatkan minuman dan -- dan membersihkan rumahmu!"
"Aku tak tahu, Wormtail, bahwa kau menginginkan tugas yang lebih berbahaya," kata Snape licik. "Ini bisa diatur dengan mudah. Aku akan bicara kepada Pangeran Kegelapan --"
"Aku bisa bicara sendiri dengannya kalau aku mau!"
"Tentu saja," kata Snape, menyeringai. "Tetapi sementara itu, ambilkan kami minuman. Anggur buatan peri bolehlah."
Wormtail bimbang sejenak, tampaknya dia akan membantah, namun kemudian berbalik dan masuk ke pintu tersembunyi kedua. Mereka mendengar bunyi berkelontangan, dan denting gelas beradu. Dalam waktu beberapa detik dia sudah kembali, membawa sebuah botol berdebu dan, tiga gelas di atas nampan. Semua diletakkannya di atas meja reyot, lalu dia bergegas meninggalkan mereka, membanting pintu berlapis buku menutup di belakangnya.
Snape menuang tiga gelas anggur merah-darah dan mengulurkan dua di antaranya kepada dua bersaudara itu. Narcissa menggumamkan ucapan terima kasih, sementara Bellatrix tidak berkata apa-apa, kecuali terus memandang galak Snape. Ini tampaknya tidak mempengaruhi ketenangan Snape; sebaliknya, dia malah tampak agak geli.
"Pangeran Kegelapan," katanya, mengangkat gelasnya dan menenggaknya habis.
Kedua kakak-beradik melakukan hal yang sama. Snape mengisi kembali gelas mereka.
Seraya meminum gelasnya yang kedua, Narcissa berkata buru-buru, "Severus, aku minta maaf datang ke sini seperti ini, tetapi aku harus bertemu denganmu. Kurasa kau satu-satunya yang bisa menolongku --"
Snape mengangkat tangan menghentikannya, kemudian mengacungkan lagi tongkat sihirnya ke arah pintu tangga yang tersembunyi. Terdengar letusan keras dan jeritan, diikuti suara Wormtail yang bergegas menaiki tangga.
"Maaf," kata Snape. "Belakangan ini dia suka menguping di belakang pintu. Aku tak tahu apa maunya ... kau tadi mau bilang apa, Narcissa?"
Narcissa bergidik, menarik napas dalam-dalam, dan mulai lagi.
"Severus, aku tahu seharusnya aku tak boleh berada di sini, aku sudah dilarang berkata apa pun kepada siapa pun."
"Kalau begitu kau harus tutup mulut!" gertak Bellatrix. "Khususnya kepada orang ini!"
"Orang ini?" ulang Snape sinis. "Dan apa maksudmu berkata begitu, Bellatrix?" .
"Bahwa aku tidak memercayaimu, Snape, seperti yang kau ketahui dengan baik!"
Narcissa mengeluarkan suara yang mungkin saja isak kering dan menutupi wajah dengan tangannya. Snape meletakkan gelas di atas meja dan duduk lagi, tangannya di atas lengan kursi, tersenyum kepada wajah gusar Bellatrix.
"Narcissa, kurasa kita harus mendengar apa yang sudah ingin sekali disampaikan Bellatrix; ini akan mencegah interupsi-interupsi membosankan. Nah, teruskan, Bellatrix," kata Snape. "Kenapa kau tidak memercayaiku?"
"Ratusan alasan!" katanya keras, berjalan dari balik sofa untuk membanting gelasnya di atas meja. "Mulai dari mana! Di mana kau ketika Pangeran Kegelapan jatuh? Kenapa kau tidak pernah berusaha mencarinya ketika dia menghilang? Apa yang kau lakukan selama bertahun-tahun hidup dalam cengkeraman Dumbledore? Kenapa kau mencegah Pangeran Kegelapan mendapatkan Batu Bertuah? Kenapa kau tidak segera datang ketika Pangeran Kegelapan lahir kembali? Di mana kau beberapa minggu yang lalu, ketika kami bertempur untuk memperoleh kembali ramalan bagi Pangeran Kegelapan? Dan kenapa, Snape, Harry Potter masih hidup, padahal dia ada dalam kekuasaanmu selama lima tahun?"
Bellatrix berhenti, dadanya naik-turun dengan cepat, pipinya memerah. Di belakangnya Narcissa duduk bergeming, wajahnya masih tersembunyi di balik tangannya.
Snape tersenyum.
"Sebelum aku menjawabmu -- oh, ya, Bellatrix, aku akan menjawab! Kau boleh menyampaikan kata-kataku kepada yang lain yang berbisik-bisik di balik punggungku, dan menyiarkan kabar bohong tentang pengkhianatanku terhadap Pangeran Kegelapan! Sebelum aku menjawabmu, kataku, izinkan aku balas menanyaimu. Apakah kau benar-benar mengira bahwa Pangeran Kegelapan tidak mengajukan semua pertanyaan itu? Dan apakah kau benar-benar mengira bahwa, kalau aku tidak sanggup memberikan jawaban yang memuaskan, aku akan duduk di sini bicara denganmu?"
Bellatrix bimbang.
"Aku tahu dia memercayaimu, tapi --"
"Kau pikir dia keliru? Atau bahwa aku berhasil memperdayainya? Membodohi Pangeran Kegelapan, penyihir paling hebat, Legilimens paling piawai yang pernah ada di dunia?"
Bellatrix tidak berkata apa-apa, tetapi untuk pertama kalinya dia tampak sedikit bingung. Snape tidak mendesak lebih jauh. Dia mengambil kembali minumannya, menghirupnya, dan melanjutkan, "Kau bertanya di mana aku ketika Pangeran Kegelapan jatuh. Aku berada di tempat di mana aku harus berada, sesuai perintah Pangeran Kegelapan, di Sekolah Sihir Hogwarts, karena dia menginginkan aku memata-matai Albus Dumbledore. Kau tahu, kukira, bahwa aku menerima jabatanku di sana atas perintah Pangeran Kegelapan?"
Bellatrix mengangguk nyaris tak tampak, dan membuka mulutnya, tetapi Snape mencegahnya.
"Kau bertanya kenapa aku tidak berusaha mencarinya ketika dia menghilang. Karena alasan yang sama yang membuat Avery, Yaxley, pasangan Carrow, Greyback, Lucius," dia mengedikkan kepalanya sedikit ke arah Narcissa, "dan banyak lagi tidak berusaha mencarinya. Aku mengira dia sudah tamat. Aku tidak bangga karenanya, aku keliru, tetapi ya begitulah ... jika dia tidak memaafkan kami yang kehilangan kepercayaan terhadapnya waktu itu, dia hanya akan punya sedikit pengikut."
"Dia akan memilikiku!" kata Bellatrix emosional. "Aku, yang melewatkan bertahun-tahun di Azkaban demi dia!"
"Ya, betul, pantas dikagumi," kata Snape dengan suara bosan. "Tentu saja, kau tak banyak gunanya baginya di penjara, tetapi langkahmu tak diragukan lagi baik--"
"Langkah!" jerit Bellatrix; dalam kemarahannya dia tampak agak seperti orang gila. "Sementara aku menahan kekejaman para Dementor, kau tinggal di Hogwarts, menikmati jadi anak emas Dumbledore!"
"Tidak sepenuhnya," kata Snape kalem. "Dia menolak memberiku jabatan guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, kau tahu. Rupanya dia mengira itu bisa, ah, menimbulkan kembali penyakit lama ... memicuku kembali ke kebiasaan lamaku."
"Itu pengorbananmu untuk Pangeran Kegelapan, tidak mengajar mata pelajaran favoritmu?" Bellatrix mencemooh. "Kenapa kau tinggal terus di sana, Snape? Masih memata-matai Dumbledore untuk tuan yang sudah kau anggap mati?"
"Hampir tidak," kata Snape, "meskipun Pangeran Kegelapan senang aku tak pernah meninggalkan posku. Aku punya informasi tentang Dumbledore selama enam belas tahun untuk kuberikan kepadanya ketika dia kembali, hadiah selamat datang yang agak lebih berguna daripada kenangan yang tak ada habisnya tentang betapa tak menyenangkannya Azkaban ..."
"Tapi kau tetap di sana --"
"Ya, Bellatrix, aku tetap di sana," kata Snape, untuk pertama kalinya memperlihatkan tanda-tanda ketidaksabaran. "Aku punya pekerjaan menyenangkan yang lebih kusukai daripada mendekam di Azkaban. Mereka menangkapi Pelahap Maut, kau tahu kan. Perlindungan Dumbledore membuatku tidak masuk penjara, itu sangat menguntungkan dan aku menggunakannya. Kuulangi: Pangeran Kegelapan tidak mengeluh aku tetap di sana, jadi aku tak mengerti kenapa kau mengeluh."
"Kupikir, berikutnya kau ingin tahu," dia melanjutkan, sedikit lebih keras, karena Bellatrix menunjukkan segala tanda mau menginterupsi, "kenapa aku jadi penghalang di antara Pangeran Kegelapan dan Batu Bertuah. Ini bisa dijawab dengan mudah. Dia tak tahu apakah dia bisa memercayaiku. Dia mengira, seperti kau, bahwa aku telah berbalik dari Pelahap Maut setia menjadi kaki tangan Dumbledore. Kondisinya mengenaskan, sangat lemah, berbagi tubuh dengan penyihir yang cuma cukupan saja. Dia tak berani memperlihatkan diri kepada sekutu lamanya, khawatir sekutu itu akan menyerahkannya kepada Dumbledore atau Kementerian. Aku menyesal sekali dia tidak memercayaiku. Kalau dia memercayaiku, dia sudah kembali berkuasa tiga tahun lebih awal. Seperti yang terjadi, aku hanya melihat Quirrel yang tamak dan tak berharga berusaha mencuri Batu dan, kuakui, kulakukan segala yang aku bisa untuk menghalanginya."
Mulut Bellatrix mengernyit seolah dia baru saja meminum obat yang pahit.
"Tapi kau tidak datang waktu dia muncul kembali, kau tidak langsung terbang menemuinya ketika kau merasakan Tanda Kegelapan terbakar --"
"Betul. Aku datang dua jam kemudian. Aku datang atas perintah Dumbledore."
"Atas perintah Dumble-?" katanya, dengan nada murka.
"Pikirkan!" tukas Snape, tak sabar lagi. "Pikirkan! Dengan menunggu dua jam, hanya dua jam, aku memastikan bahwa aku bisa tetap tinggal di Hogwarts sebagai mata-mata! Dengan membiarkan Dumbledore mengira aku hanya kembali ke sisi Pangeran Kegelapan karena aku diperintahkannya, aku bisa menyampaikan informasi tentang Dumbledore dan Orde Phoenix sejak saat itu! Pertimbangkan, Bellatrix: Tanda Kegelapan sudah semakin menguat selama berbulan-bulan, aku tahu dia pasti akan kembali, semua Pelahap Maut tahu! Bukankah aku punya banyak waktu untuk memikirkan apa yang akan kulakukan, merencanakan langkahku. berikutnya, untuk kabur seperti Karkaroff?"
"Kegusaran awal Pangeran Kegelapan soal kedatanganku yang terlambat sirna sepenuhnya, yakinlah, ketika aku menjelaskan bahwa aku tetap setia, kendatipun Dumbledore mengira aku orang kepercayaannya. Ya, Pangeran Kegelapan tadinya mengira aku telah meninggalkannya selamanya, namun dia keliru."
"Tapi apa kegunaanmu?" cemooh Bellatrix. "Informasi bermanfaat apa yang kami dapat darimu?"
"Informasiku disampaikan langsung kepada Pangeran Kegelapan," kata Snape. "Kalau dia memilih tidak memberitahumu --"
"Dia memberitahuku segalanya!" kata Bellatrix, langsung meledak. "Dia menyebutku pengikutnya yang paling loyal, paling setia, paling --"
"Betulkah?" kata Snape, suaranya sengaja menyiratkan ketidakpercayaannya. "Masihkah dia menganggapmu begitu setelah kegagalan di Kementerian?"
"Itu bukan salahku!" kata Bellatrix, wajahnya memerah. "Pangeran Kegelapan, tadinya, memercayaiku dan memberitahuku rahasianya yang paling kalau Lucius tidak --"
"Jangan berani-berani-jangan berani-berani kau menyalahkan suamiku!" kata Narcissa, dengan suara rendah dan mengancam, menatap kakaknya.
"Tak ada gunanya membagi-bagi kesalahan," kata Snape lancar. "Semuanya sudah terjadi."
"Tapi kau tak ambil bagian!" kata Bellatrix gusar. "Tidak, kau sekali lagi absen sementara kami yang lain menghadapi bahaya, kan, Snape?"
"Perintah untukku adalah agar tinggal di tempat," kata Snape. "Mungkin kau tidak setuju dengan Pangeran Kegelapan, mungkin kau berpendapat Dumbledore tidak akan memperhatikan bahwa aku telah bergabung dengan para Pelahap Maut untuk melawan Orde Phoenix? Dan maafkan aku kau bicara soal bahaya ... bukankah kalian menghadapi enam remaja?"
"Mereka didukung, seperti yang kau ketahui, oleh separo Orde dalam waktu singkat!" bentak Bellatrix. "Dan, selagi kita bicara tentang Orde, kau tetap menyatakan tak bisa memberitahukan tempat Markas Besarnya, kan?"
"Aku bukan Penjaga Rahasia mereka, aku tak bisa menyebutkan nama tempat itu. Kau kan tahu bagaimana cara kerja sihir ini, kukira? Pangeran Kegelapan puas dengan informasi yang kusampaikan kepadanya soal Orde. Informasiku menghasilkan, seperti yang mungkin telah kautebak, penangkapan dan pembunuhan terhadap Emmeline Vance belum lama ini, dan jelas membantu membereskan Sirius Black, walaupun aku mengakui kau yang menghabisinya."
Snape mengedikkan kepala dan bersulang untuk Bellatrix. Ekspresi Bellatrix tidak melunak.
"Kau menghindari pertanyaanku yang terakhir, Snape. Harry Potter. Kau bisa membunuhnya kapan saja dalam lima tahun belakangan ini. Kau tidak melakukannya. Kenapa?"
"Sudahkah kau membicarakan masalah ini dengan Pangeran Kegelapan?" tanya Snape.
"Dia ... belakangan ini, kami ... aku menanyaimu, Snape!"
"Jika aku membunuh Harry Potter, Pangeran Kegelapan tidak akan bisa menggunakan darahnya untuk lahir kembali, membuatnya tak terkalahkan --"
"Kau menyatakan kau sudah tahu sebelumnya kegunaan anak ini bagi Pangeran Kegelapan!" cemooh Bellatrix.
"Aku tidak bermaksud berkata begitu; aku sama sekali tak tahu rencananya. Aku sudah mengakui, kusangka Pangeran Kegelapan sudah mati. Aku hanya mencoba menjelaskan kenapa Pangeran Kegelapan tidak menyesal bahwa Potter bertahan hidup, paling tidak sampai setahun yang lalu ..."
"Tetapi kenapa kau membiarkannya hidup?"
"Kau belum memahamiku? Perlindungan Dumbledore-lah yang membuatku tidak dikirim ke Azkaban! Apakah kau tidak sepakat bahwa membunuh murid favoritnya mungkin akan membuatnya memusuhiku? Tetapi ada alasan lain. Kuingatkan bahwa ketika Potter baru tiba di Hogwarts masih banyak beredar cerita tentang dia, rumor bahwa dia adalah penyihir hitam yang hebat, itulah sebabnya dia berhasil selamat dari serangan Pangeran Kegelapan. Malah, banyak pengikut lama Pangeran Kegelapan mengira Potter bisa dijadikan panutan, bersamanya kita sekali lagi bisa bersatu. Aku penasaran, kuakui, dan sama sekali tak berniat langsung membunuhnya begitu dia tiba di kastil."
"Tentu saja, segera menjadi jelas bagiku bahwa dia sama sekali tak punya bakat istimewa. Dia, berhasil lolos dari berbagai situasi sulit semata-mata berkat kombinasi keberuntungan dan kawan-kawan yang lebih berbakat daripadanya. Dia cuma biasa-biasa saja, meskipun sama menjengkelkan dari berpuas diri seperti ayahnya. Aku sudah berusaha sebisaku untuk membuatnya dikeluarkan dari Hogwarts, menurutku dia tak layak berada di Hogwarts, tetapi membunuhnya atau membiarkan dia terbunuh di depanku? Aku tolol kalau berani mengambil risiko ini, dengan Dumbledore berada dekat begitu."
"Dan selama ini kami diharapkan percaya Dumbledore tidak pernah mencurigaimu?" tanya Bellatrix.
"Dia sama sekali tak menyadari kepada siapa sebetulnya kesetiaanmu kauberikan, dia masih memercayaimu sepenuhnya?"
"Aku memainkan peranku dengan baik," kata Snape.
"Dan kau melupakan kelemahan terbesar Dumbledore: dia memercayai yang terbaik dari setiap orang. Aku mengarang cerita penyesalan teramat dalam ketika aku bergabung menjadi stafnya, langsung setelah meninggalkan hari-hariku sebagai Pelahap Maut, dan dia menerimaku dengan tangan terbuka meskipun, seperti kukatakan, sebisanya tak pernah mengizinkan aku dekat dengan Ilmu Hitam. Dumbledore penyihir hebat oh ya, dia penyihir hebat" (karena Bellatrix mengeluarkan suara tajam) "Pangeran Kegelapan mengakuinya. Meskipun demikian, aku senang mengatakan, bahwa Dumbledore sekarang sudah tua. Duel dengan Pangeran Kegelapan bulan lalu mengguncangnya. Sejak duel itu dia menderita luka serius, karena reaksinya lebih lambat daripada sebelumnya. Tetapi selama bertahun-tahun ini dia tidak pernah berhenti memercayai Severus Snape, dan itulah sebabnya aku sangat berharga bagi Pangeran Kegelapan."
Bellatrix masih tidak puas, meskipun dia tampak sangsi bagaimana cara paling baik menyerang Snape berikutnya. Menggunakan kesempatan diamnya Bellatrix, Snape menoleh memandang adiknya.
"Nah ... kau datang untuk meminta bantuanku, Narcissa?"
Narcissa mengangkat muka menatapnya, wajahnya dipenuhi keputusasaan.
"Ya, Severus. Ku -- kurasa kau satu-satunya yang bisa menolongku. Tak ada orang lain yang bisa kumintai tolong. Lucius di penjara dan ..."
Dia memejamkan mata dan dua butir air mata besar bergulir dari bawah pelupuknya.
"Pangeran Kegelapan telah melarangku membicarakan ini;" Narcissa melanjutkan, matanya masih terpejam. "Dia tak mau orang lain tahu tentang rencana ini. Ini ... sangat rahasia. Tapi --"
"Kalau dia melarang, kau tak boleh membicarakannya," kata Snape segera. "Kata-kata Pangeran Kegelapan adalah hukum."
Narcissa kaget seakan Snape telah menyiramnya dengan air dingin. Bellatrix tampak puas untuk pertama kalinya sejak dia memasuki rumah itu.
"Nah!" katanya penuh kemenangan kepada adiknya. "Bahkan Snape melarangmu bicara, jadi jangan bicara!"
Namun Snape telah bangkit dan berjalan ke jendela kecil, mengintip melalui gorden ke arah jalan yang sepi, kemudian menutup kembali gorden dengan sentakan. Dia berbalik menghadapi Narcissa, mengernyit.
"Kebetulan aku tahu rencana ini;" katanya pelan. "Aku salah satu dari sedikit orang yang diberitahu Pangeran Kegelapan. Meskipun demikian, seandainya aku tak mengetahui rahasia ini, Narcissa, kau akan bersalah melakukan pengkhianatan besar terhadap Pangeran Kegelapan."
"Kupikir kau pasti tahu tentang ini!" kata Narcissa, bernapas lebih lega. "Dia amat memercayaimu, Severus ..."
"Kau tahu rencana itu?" kata Bellatrix, ekspresi kepuasan yang cuma sekilas kini digantikan kemurkaan.
"Kau tahu?"
"Tentu," kata Snape. "Tetapi, bantuan seperti apa yang kau kehendaki, Narcissa? Kalau kau membayangkan aku bisa membujuk Pangeran Kegelapan untuk mengubah pikirannya, aku khawatir tak ada harapan, sama sekali tak ada harapan."
"Severus," bisiknya, air mata mengalir di pipinya yang pucat. "Anakku ... anak tunggalku ..."
"Draco mestinya bangga," kata Bellatrix tak peduli. "Pangeran Kegelapan memberinya kehormatan besar. Dan aku akan mengatakan ini untuk Draco: dia tidak menyingkir dari tugasnya, dia tampaknya senang punya kesempatan untuk membuktikan diri, bersemangat mau melakukannya --"
Narcissa mulai menangis tersedu, tak hentinya menatap Snape dengan pandangan memohon.
"Itu karena dia baru enam belas tahun dan sama sekali tak tahu apa yang akan dihadapinya! Kenapa, Severus? Kenapa anakku? Ini terlalu berbahaya! Ini pembalasan bagi kesalahan Lucius. Aku tahu!"
Snape diam saja. Dia memalingkan pandangan dari air mata Narcissa, seakan itu tak pantas, namun dia tak bisa berpura-pura tidak mendengarnya
"Itulah sebabnya dia memilih Draco, kan?" Narcissa mendesak. "Untuk menghukum Lucius?
"Jika Draco berhasil," kata Snape, masih tidak memandangnya, "dia akan menerima kehormatan lebih daripada yang lain."
"Tetapi dia tak akan berhasil!" isak Narcissa. "Bagaimana mungkin, kalau Pangeran Kegelapan sendiri?"
Bellatrix kaget, menahan napas. Narcissa tampaknya kehilangan keberanian.
"Aku cuma bermaksud mengatakan ... bahwa belum pernah ada yang berhasil ... Severus ... tolonglah ... kau, dari dulu, adalah guru favorit Draco ... kau teman lama Lucius ... kumohon ... kau favorit Pangeran Kegelapan, penasihatnya yang paling dipercaya ... maukah kau bicara kepadanya, membujuknya?"
"Pangeran Kegelapan tak bisa dibujuk, dan aku tak begitu bodoh sehingga mau membujuknya," kata Snape datar. "Aku tak bisa berpura-pura bahwa Pangeran Kegelapan tidak marah kepada Lucius. Luciuslah penanggung jawab waktu itu. Dia malah tertangkap, bersama entah berapa banyak yang lain, dan gagal mendapatkan kembali ramalannya. Ya, Pangeran Kegelapan marah, Narcissa, amat sangat marah."
"Kalau begitu aku benar, dia memilih Draco untuk balas dendam!" isak Narcissa. "Dia tak bermaksud Draco sukses, dia ingin Draco terbunuh dalam usahanya!"
Ketika Snape diam saja, Narcissa tampak kehilangan pertahanan dirinya yang hanya tersisa sedikit. Bangkit berdiri, dia terhuyung mendekati Snape dan menjambret bagian depan jubahnya. Wajahnya dekat ke wajah Snape, air matanya menetes ke dada Snape, dia tersedu, "Kau bisa melakukannya. Kau bisa melakukannya, alih-alih Draco, Severus. Kau akan berhasil, pasti kau berhasil, dan dia akan memberimu penghargaan melebihi yang pernah kami semua terima"
Snape memegang pergelangan tangan Narcissa dan menyingkirkan tangannya yang mencengkeram jubahnya. Menunduk memandang wajah Narcissa yang basah oleh air mata, dia berkata perlahan, "Dia bermaksud pada akhirnya aku yang melakukannya, kurasa. Tetapi dia berkeras Draco mencobanya lebih dulu. Soalnya, walaupun kelihatannya tak mungkin, seandainya Draco berhasil, aku akan bisa tinggal di Hogwarts sedikit lebih lama, menjalankan fungsiku yang berguna sebagai mata-mata."
"Dengan kata lain, tak jadi persoalan baginya kalau Draco terbunuh!"
"Pangeran Kegelapan sangat marah," . Snape mengulang pelan. "Dia gagal mendengar ramalan itu. Kita sama-sama tahu, Narcissa, dia tidak mudah memaafkan."
Narcissa merosot, terpuruk di kaki Snape, tersedu dan meratap di lantai.
"Anakku ... anak tunggalku ..."
"Kau mestinya bangga!" kata Bellatrix tanpa belas kasihan. "Kalau aku punya anak laki-laki, dengan senang hati akan kuserahkan untuk melayani Pangeran Kegelapan!"
Narcissa menjerit putus asa dan mencengkeram rambut pirangnya yang panjang. Snape membungkuk, memegang lengannya, mengangkatnya dan mendudukkannya kembali di sofa. Dia kemudian menuangkan anggur lagi untuk Narcissa dan menyorongkan gelasnya ke tangannya.
"Narcissa, sudah cukup. Minumlah ini. Dengarkan aku."
Tangis Narcissa mereda sedikit. Tangannya berguncang, sehingga anggur tumpah ke tubuhnya. Dengan gemetar dia meneguknya sedikit.
"Ada kemungkinan ... aku bisa membantu Draco."
Narcissa duduk tegak, wajahnya pucat pasi, matanya membesar.
"Severus oh, Severus -- kau mau membantunya? Maukah kau menjaganya, supaya dia tidak celaka?"
"Aku bisa mencoba."
Narcissa melempar gelasnya; gelas itu meluncur di atas meja ketika Narcissa merosot turun dari sofa dalam posisi berlutut di depan kaki Snape, menyambar tangan Snape dengan kedua tangannya dan menekankan bibirnya ke tangan itu.
"Kalau kau ada di sana untuk melindunginya ... Severus, maukah kau bersumpah? Maukah kau melakukan Sumpah Tak-Terlanggar?"
"Sumpah Tak-Terlanggar?" ekspresi Snape kosong, tak bisa ditebak: Bellatrix, sebaliknya, tertawa terbahak.
"Apa kau tidak mendengarkan, Narcissa? Oh, dia akan berusaha, aku yakin ... kata-kata kosong yang biasa, penghindaran yang biasa ... oh, atas perintah Pangeran Kegelapan, tentunya!"
Snape tidak memandang Bellatrix. Matanya yang hitam menatap mata biru Narcissa yang digenangi air mata, sementara Narcissa terus menggenggam tangannya.
"Tentu, Narcissa, aku mau melakukan Sumpah Tak-Terlanggar," katanya pelan. "Barangkali kakakmu bersedia menjadi Pengikat kita."
Mulut Bellatrix ternganga. Snape berlutut di depan Narcissa. Di bawah tatapan tercengang Bellatrix, tangan kanan mereka berpegangan.
"Kau perlu tongkat sihirmu, Bellatrix," kata Snape dingin.
Bellatrix mencabut tongkat sihirnya, masih tampak keheranan.
"Dan kau perlu mendekat sedikit," kata Snape. Bellatrix melangkah maju sehingga dia berdiri di depan mereka dan meletakkan ujung tongkat sihirnya ke tangan mereka yang bersatu. Narcissa bicara.
"Maukah kau, Snape, menjaga anakku Draco ketika dia berusaha memenuhi keinginan Pangeran Kegelapan?"
"Aku mau," kata Snape.
Lidah api tipis cemerlang meluncur dari tongkat sihir dan meliliti tangan mereka seperti kawat panas merah.
"Dan maukah kau, semampumu, melindunginya dari bahaya?"
"Aku mau," kata Snape.
Lidah api kedua meluncur dari tongkat sihir dan berjalin dengan yang pertama, menjadi rantai indah membara.
"Dan, jika diperlukan .... jika tampaknya Draco akan gagal ..." bisik Narcissa (tangan Snape mengejang dalam tangan Narcissa, namun Snape tidak menariknya),
"maukah kau menyelesaikan pekerjaan yang telah ditugaskan Pangeran Kegelapan kepada Draco?"
Sejenak hening. Bellatrix mengawasi, tongkat sihirnya di atas tangan mereka yang saling genggam, matanya terbelalak.
"Aku mau," kata Snape.
Wajah keheranan Bellatrix berpendar merah dalam cahaya lidah api ketiga, yang meluncur dari tongkat sihirnya, berjalin dengan yang lain dan mengikat kuat tangan mereka seperti tali, seperti ular api

Tidak ada komentar:

Posting Komentar