Selasa, 04 Februari 2014
02. SPINNER´S END
02. SPINNER´S END
Di tempat yang berjarak berkilo-kilo meter, kabut dingin yang menekan
jendela Perdana Menteri melayang di atas sungai kotor yang
berkelok-kelok sepanjang tepian yang ditumbuhi semak dengan sampah
berserakan. Sebuah cerobong besar, peninggalan penggilingan yang sudah
tak terpakai, menjulang, seperti bayangan mengerikan. Tak ada suara
selain desah air hitam dan tak ada
tanda-tanda kehidupan kecuali seekor rubah kurus yang menyelinap
menuruni tepian sungai, mengendus-endus penuh harap bungkus kentang dan
ikan goreng di antara rerumputan tinggi.
Namun kemudian, dengan
bunyi pop pelan, sosok ramping berkerudung tiba-tiba muncul di tepi
sungai. Si rubah membeku, matanya yang waspada tertuju pada wujud baru
yang aneh ini. Sosok itu tampak memperhatikan keadaan sekelilingnya
sesaat, kemudian berjalan dengan langkah-langkah ringan dan cepat,
mantel panjangnya berkeresek di atas rumput.
Terdengar bunyi pop kedua yang lebih keras, dan satu lagi sosok berkerudung muncul.
"Tunggu!"
Seruan parau ini mengejutkan si rubah, yang sedang mengendap nyaris
rata di bawah semak. Rubah itu melompat dari tempat persembunyiannya dan
berlari menaiki tebing. Seleret cahaya hijau menyambar, terdengar
dengkingan, dan si rubah terjatuh kembali di tanah, mati.
Sosok kedua membalik binatang itu dengan jari-jari kakinya.
"Cuma rubah," kata suara Wanita -- lega dari bawah kerudung. "Kukira tadi mungkin Auror-Cissy, tunggu!"
Namun buruannya, yang tadi berhenti dan menoleh ketika cahaya
menyambar, sudah merayap memanjat tebing tempat si rubah tadi
tergelincir.
"Cissy Narcissa dengarkan aku--"
Wanita kedua berhasil mengejar yang pertama dan menyambar lengannya, namun si wanita pertama menariknya lepas.
"Pulanglah, Belia!"
"Kau harus mendengarkan aku!"
"Aku sudah mendengarkan. Aku sudah mengambil keputusan. Tinggalkan aku sendiri."
Wanita bernama Narcissa mencapai tepian sungai. Di tempat itu pagar tua
memisahkan sungai itu dari jalan batu sempit. Wanita yang lain, Bella,
langsung menyusulnya. Mereka berdiri berdampingan memandang ke seberang
jalan, ke deretan-deretan rumah bata kumuh, jendela-jendelanya suram dan
tertutup dalam kegelapan.
"Dia tinggal di sini?" tanya Bella dengan
suara menghina. "Di sini? Di kawasan kumuh Muggle ini? Kita pasti orang
pertama bangsa kita yang menginjakkan kaki--"
Namun Narcissa tidak mendengarkan; dia telah menyelinap melewati celah di pagar berkarat dan bergegas menyeberang jalan.
"Cissy, tunggu!"
Bella menyusul, mantelnya melambai di belakangnya, dan melihat Narcissa
berlari sepanjang jalan sempit di antara rumah-rumah, masuk ke jalan
sempit yang nyaris identik. Beberapa lampu jalanan tidak menyala; kedua
wanita ini berlari bergantian melewati jalanan yang diterangi seberkas
cahaya dan tempat-tempat yang gelap gulita. Si pengejar berhasil
mengejar buruannya tepat ketika dia akan berbelok lagi, kali ini dia
berhasil menangkap lengannya dan membalikkan tubuhnya, sehingga mereka
berhadapan.
"Cissy, kau tak boleh melakukan ini, kau tak bisa memercayainya--"
"Pangeran Kegelapan memercayainya, kan?"
"Pangeran Kegelapan ... kurasa ... keliru," Bella tersengal, dan
sekejap matanya berkilat di bawah kerudungnya ketika dia memandang
berkeliling untuk memastikan mereka benar-benar berdua saja.
"Bagaimanapun juga, kita sudah dipesan tidak boleh memberitahukan
rencana ini kepada siapa pun. Ini pengkhianatan terhadap perintah
Pangeran Kegel--"
"Lepaskan, Bella!" gertak Narcissa dan dia
mencabut tongkat sihir dari bawah mantelnya, mengacungkannya dengan
mengancam ke wajah pengejarnya. Bella hanya tertawa.
"Cissy, kakakmu sendiri? Kau tak akan--"
"Tak ada lagi yang tak akan kulakukan!" Narcissa mendesah, ada nada
histeris dalam suaranya, dan begitu dia menebaskan tongkatnya seperti
pisau, ada sambaran cahaya lagi. Bella melepas lengan adiknya seakan
tangannya terbakar.
"Narcissa!"
Tetapi Narcissa telah berlari
meninggalkannya. Seraya menggosok-gosok tangannya, Bella mengejarnya
lagi, kali ini menjaga, jarak, ketika mereka masuk lebih jauh dalam
labirin rumah-rumah bata tanpa penghuni. Akhirnya Narcissa bergegas
menyusuri jalan bernama Spinner's End -- Ujung Pemintal. Di atas jalan
itu cerobong penggilingan tampak menjulang, seperti jari raksasa yang
sedang memberi teguran. Langkah-langkahnya bergaung di atas jalan batu
ketika dia melewati jendela-jendela yang kacanya pecah dan ditutup
papan, sampai dia tiba di rumah paling akhir. Di rumah itu ada cahaya
temaram dari balik jendela bergorden di, sebuah ruangan di lantai bawah.
Dia telah mengetuk pintu sebelum Bella, mengutuk pelan, berhasil
menyusulnya. Bersama-sama mereka berdiri menunggu, sedikit terengah,
menghirup bau sungai kotor yang terbawa angin malam ke hidung mereka.
Selewat beberapa saat mereka mendengar gerakan di balik pintu dan pintu
membuka secelah. Dari celah sempit itu tampak seorang pria memandang
mereka, pria dengan rambut panjang terbelah di tengah, seperti gorden
yang membingkai wajahnya yang pucat dan matanya yang hitam.
Narcissa
melempar kerudung kepalanya ke belakang. Wajahnya pucat sekali sehingga
tampaknya bersinar dalam kegelapan; rambut pirangnya yang panjang dan
terjurai di punggungnya membuatnya tampak seperti orang tenggelam.
"Narcissa!" kata pria itu, membuka pintu sedikit lebih lebar, sehingga
cahaya mengenai dia dan juga kakaknya. "Sungguh kejutan menyenangkan!"
"Severus," katanya dalam bisikan tegang. "Boleh aku bicara denganmu? Penting sekali."
"Tentu saja."
Pria itu mundur agar Narcissa bisa melewatinya masuk ke dalam rumah.
Kakaknya yang masih berkerudung ikut masuk tanpa dipersilakan.
"Snape " katanya pendek ketika melewatinya
"Bellatrix," balasnya, mulutnya yang tipis melengkung menjadi senyum
agak mengejek ketika dia menutup pintu rapat-rapat di belakang mereka.
Mereka masuk ke ruang duduk mungil, yang memberi kesan sel gelap
berperedam. Seluruh dindingnya dipenuhi buku, sebagian besar buku-buku
tua dengan sampul kulit hitam atau cokelat; sebuah sofa usang, kursi
berlengan tua, dan meja reyot berkumpul dalam cahaya temaram yang
disorotkan oleh lampu lilin yang tergantung di langit-langit. Tempat ini
kesannya telantar, seakan biasanya tidak dihuni.
Snape memberi
isyarat agar Narcissa duduk di sofa. Narcissa membuka mantelnya,
melemparnya, dan duduk, memandang tangannya yang putih gemetar terkatup
di pangkuannya. Bellatrix menurunkan kerudungnya lebih pelan. Jika
adiknya berkulit putih, kulitnya gelap, dengan mata berpelupuk tebal dan
rahang kuat. Dia tak melepaskan pandangan dari Snape ketika bergerak
untuk berdiri di belakang Narcissa.
"Nah, apa yang bisa kulakukan untukmu?" tanya Snape, seraya duduk di kursi berlengan di hadapan kedua kakak-beradik itu.
"Kita ... kita sendiri, kan?" Narcissa bertanya pelan.
"Ya, tentu saja. Wormtail ada di sini, tapi tikus tidak masuk hitungan, kan?"
Snape mengacungkan tongkat sihirnya ke dinding buku di belakangnya dan,
dengan bunyi letupan, sebuah pintu rahasia menjeblak terbuka,
memperlihatkan sebuah tangga sempit, di atasnya seorang pria kecil
berdiri membeku.
"Seperti yang jelas telah kau ketahui, Wormtail, ada tamu," kata Snape santai.
Pria itu merayap dengan membungkuk menuruni beberapa anak tangga
terakhir dan masuk ke dalam ruangan. Matanya kecil, berair, hidungnya
runcing, dan senyumnya tidak menyenangkan. Tangan kirinya mengelus
tangan kanannya, yang kelihatannya seakan terbungkus sarung tangan perak
terang.
"Narcissa!" katanya, dengan suara melengking, "dan Bellatrix! Sungguh menyenangkan --"
"Wormtail akan mengambilkan minuman, jika kalian mau minum," kata Snape. "Dan kemudian dia akan kembali ke kamarnya."
Wormtail berjengit seakan Snape melemparnya dengan sesuatu.
"Aku bukan pembantumu!" lengkingnya, menghindari mata Snape.
"Masa? Setahuku Pangeran Kegelapan menempatkanmu di sini untuk membantuku."
"Untuk membantu, ya tetapi bukan untuk membuatkan minuman dan -- dan membersihkan rumahmu!"
"Aku tak tahu, Wormtail, bahwa kau menginginkan tugas yang lebih
berbahaya," kata Snape licik. "Ini bisa diatur dengan mudah. Aku akan
bicara kepada Pangeran Kegelapan --"
"Aku bisa bicara sendiri dengannya kalau aku mau!"
"Tentu saja," kata Snape, menyeringai. "Tetapi sementara itu, ambilkan kami minuman. Anggur buatan peri bolehlah."
Wormtail bimbang sejenak, tampaknya dia akan membantah, namun kemudian
berbalik dan masuk ke pintu tersembunyi kedua. Mereka mendengar bunyi
berkelontangan, dan denting gelas beradu. Dalam waktu beberapa detik dia
sudah kembali, membawa sebuah botol berdebu dan, tiga gelas di atas
nampan. Semua diletakkannya di atas meja reyot, lalu dia bergegas
meninggalkan mereka, membanting pintu berlapis buku menutup di
belakangnya.
Snape menuang tiga gelas anggur merah-darah dan
mengulurkan dua di antaranya kepada dua bersaudara itu. Narcissa
menggumamkan ucapan terima kasih, sementara Bellatrix tidak berkata
apa-apa, kecuali terus memandang galak Snape. Ini tampaknya tidak
mempengaruhi ketenangan Snape; sebaliknya, dia malah tampak agak geli.
"Pangeran Kegelapan," katanya, mengangkat gelasnya dan menenggaknya habis.
Kedua kakak-beradik melakukan hal yang sama. Snape mengisi kembali gelas mereka.
Seraya meminum gelasnya yang kedua, Narcissa berkata buru-buru,
"Severus, aku minta maaf datang ke sini seperti ini, tetapi aku harus
bertemu denganmu. Kurasa kau satu-satunya yang bisa menolongku --"
Snape mengangkat tangan menghentikannya, kemudian mengacungkan lagi
tongkat sihirnya ke arah pintu tangga yang tersembunyi. Terdengar
letusan keras dan jeritan, diikuti suara Wormtail yang bergegas menaiki
tangga.
"Maaf," kata Snape. "Belakangan ini dia suka menguping di
belakang pintu. Aku tak tahu apa maunya ... kau tadi mau bilang apa,
Narcissa?"
Narcissa bergidik, menarik napas dalam-dalam, dan mulai lagi.
"Severus, aku tahu seharusnya aku tak boleh berada di sini, aku sudah dilarang berkata apa pun kepada siapa pun."
"Kalau begitu kau harus tutup mulut!" gertak Bellatrix. "Khususnya kepada orang ini!"
"Orang ini?" ulang Snape sinis. "Dan apa maksudmu berkata begitu, Bellatrix?" .
"Bahwa aku tidak memercayaimu, Snape, seperti yang kau ketahui dengan baik!"
Narcissa mengeluarkan suara yang mungkin saja isak kering dan menutupi
wajah dengan tangannya. Snape meletakkan gelas di atas meja dan duduk
lagi, tangannya di atas lengan kursi, tersenyum kepada wajah gusar
Bellatrix.
"Narcissa, kurasa kita harus mendengar apa yang sudah
ingin sekali disampaikan Bellatrix; ini akan mencegah
interupsi-interupsi membosankan. Nah, teruskan, Bellatrix," kata Snape.
"Kenapa kau tidak memercayaiku?"
"Ratusan alasan!" katanya keras,
berjalan dari balik sofa untuk membanting gelasnya di atas meja. "Mulai
dari mana! Di mana kau ketika Pangeran Kegelapan jatuh? Kenapa kau tidak
pernah berusaha mencarinya ketika dia menghilang? Apa yang kau lakukan
selama bertahun-tahun hidup dalam cengkeraman Dumbledore? Kenapa kau
mencegah Pangeran Kegelapan mendapatkan Batu Bertuah? Kenapa kau tidak
segera datang ketika Pangeran Kegelapan lahir kembali? Di mana kau
beberapa minggu yang lalu, ketika kami bertempur untuk memperoleh
kembali ramalan bagi Pangeran Kegelapan? Dan kenapa, Snape, Harry Potter
masih hidup, padahal dia ada dalam kekuasaanmu selama lima tahun?"
Bellatrix berhenti, dadanya naik-turun dengan cepat, pipinya memerah. Di
belakangnya Narcissa duduk bergeming, wajahnya masih tersembunyi di
balik tangannya.
Snape tersenyum.
"Sebelum aku menjawabmu -- oh,
ya, Bellatrix, aku akan menjawab! Kau boleh menyampaikan kata-kataku
kepada yang lain yang berbisik-bisik di balik punggungku, dan menyiarkan
kabar bohong tentang pengkhianatanku terhadap Pangeran Kegelapan!
Sebelum aku menjawabmu, kataku, izinkan aku balas menanyaimu. Apakah kau
benar-benar mengira bahwa Pangeran Kegelapan tidak mengajukan semua
pertanyaan itu? Dan apakah kau benar-benar mengira bahwa, kalau aku
tidak sanggup memberikan jawaban yang memuaskan, aku akan duduk di sini
bicara denganmu?"
Bellatrix bimbang.
"Aku tahu dia memercayaimu, tapi --"
"Kau pikir dia keliru? Atau bahwa aku berhasil memperdayainya?
Membodohi Pangeran Kegelapan, penyihir paling hebat, Legilimens paling
piawai yang pernah ada di dunia?"
Bellatrix tidak berkata apa-apa,
tetapi untuk pertama kalinya dia tampak sedikit bingung. Snape tidak
mendesak lebih jauh. Dia mengambil kembali minumannya, menghirupnya, dan
melanjutkan, "Kau bertanya di mana aku ketika Pangeran Kegelapan jatuh.
Aku berada di tempat di mana aku harus berada, sesuai perintah Pangeran
Kegelapan, di Sekolah Sihir Hogwarts, karena dia menginginkan aku
memata-matai Albus Dumbledore. Kau tahu, kukira, bahwa aku menerima
jabatanku di sana atas perintah Pangeran Kegelapan?"
Bellatrix mengangguk nyaris tak tampak, dan membuka mulutnya, tetapi Snape mencegahnya.
"Kau bertanya kenapa aku tidak berusaha mencarinya ketika dia
menghilang. Karena alasan yang sama yang membuat Avery, Yaxley, pasangan
Carrow, Greyback, Lucius," dia mengedikkan kepalanya sedikit ke arah
Narcissa, "dan banyak lagi tidak berusaha mencarinya. Aku mengira dia
sudah tamat. Aku tidak bangga karenanya, aku keliru, tetapi ya begitulah
... jika dia tidak memaafkan kami yang kehilangan kepercayaan
terhadapnya waktu itu, dia hanya akan punya sedikit pengikut."
"Dia akan memilikiku!" kata Bellatrix emosional. "Aku, yang melewatkan bertahun-tahun di Azkaban demi dia!"
"Ya, betul, pantas dikagumi," kata Snape dengan suara bosan. "Tentu
saja, kau tak banyak gunanya baginya di penjara, tetapi langkahmu tak
diragukan lagi baik--"
"Langkah!" jerit Bellatrix; dalam
kemarahannya dia tampak agak seperti orang gila. "Sementara aku menahan
kekejaman para Dementor, kau tinggal di Hogwarts, menikmati jadi anak
emas Dumbledore!"
"Tidak sepenuhnya," kata Snape kalem. "Dia menolak
memberiku jabatan guru Pertahanan terhadap Ilmu Hitam, kau tahu.
Rupanya dia mengira itu bisa, ah, menimbulkan kembali penyakit lama ...
memicuku kembali ke kebiasaan lamaku."
"Itu pengorbananmu untuk
Pangeran Kegelapan, tidak mengajar mata pelajaran favoritmu?" Bellatrix
mencemooh. "Kenapa kau tinggal terus di sana, Snape? Masih memata-matai
Dumbledore untuk tuan yang sudah kau anggap mati?"
"Hampir tidak,"
kata Snape, "meskipun Pangeran Kegelapan senang aku tak pernah
meninggalkan posku. Aku punya informasi tentang Dumbledore selama enam
belas tahun untuk kuberikan kepadanya ketika dia kembali, hadiah selamat
datang yang agak lebih berguna daripada kenangan yang tak ada habisnya
tentang betapa tak menyenangkannya Azkaban ..."
"Tapi kau tetap di sana --"
"Ya, Bellatrix, aku tetap di sana," kata Snape, untuk pertama kalinya
memperlihatkan tanda-tanda ketidaksabaran. "Aku punya pekerjaan
menyenangkan yang lebih kusukai daripada mendekam di Azkaban. Mereka
menangkapi Pelahap Maut, kau tahu kan. Perlindungan Dumbledore membuatku
tidak masuk penjara, itu sangat menguntungkan dan aku menggunakannya.
Kuulangi: Pangeran Kegelapan tidak mengeluh aku tetap di sana, jadi aku
tak mengerti kenapa kau mengeluh."
"Kupikir, berikutnya kau ingin
tahu," dia melanjutkan, sedikit lebih keras, karena Bellatrix
menunjukkan segala tanda mau menginterupsi, "kenapa aku jadi penghalang
di antara Pangeran Kegelapan dan Batu Bertuah. Ini bisa dijawab dengan
mudah. Dia tak tahu apakah dia bisa memercayaiku. Dia mengira, seperti
kau, bahwa aku telah berbalik dari Pelahap Maut setia menjadi kaki
tangan Dumbledore. Kondisinya mengenaskan, sangat lemah, berbagi tubuh
dengan penyihir yang cuma cukupan saja. Dia tak berani memperlihatkan
diri kepada sekutu lamanya, khawatir sekutu itu akan menyerahkannya
kepada Dumbledore atau Kementerian. Aku menyesal sekali dia tidak
memercayaiku. Kalau dia memercayaiku, dia sudah kembali berkuasa tiga
tahun lebih awal. Seperti yang terjadi, aku hanya melihat Quirrel yang
tamak dan tak berharga berusaha mencuri Batu dan, kuakui, kulakukan
segala yang aku bisa untuk menghalanginya."
Mulut Bellatrix mengernyit seolah dia baru saja meminum obat yang pahit.
"Tapi kau tidak datang waktu dia muncul kembali, kau tidak langsung
terbang menemuinya ketika kau merasakan Tanda Kegelapan terbakar --"
"Betul. Aku datang dua jam kemudian. Aku datang atas perintah Dumbledore."
"Atas perintah Dumble-?" katanya, dengan nada murka.
"Pikirkan!" tukas Snape, tak sabar lagi. "Pikirkan! Dengan menunggu dua
jam, hanya dua jam, aku memastikan bahwa aku bisa tetap tinggal di
Hogwarts sebagai mata-mata! Dengan membiarkan Dumbledore mengira aku
hanya kembali ke sisi Pangeran Kegelapan karena aku diperintahkannya,
aku bisa menyampaikan informasi tentang Dumbledore dan Orde Phoenix
sejak saat itu! Pertimbangkan, Bellatrix: Tanda Kegelapan sudah semakin
menguat selama berbulan-bulan, aku tahu dia pasti akan kembali, semua
Pelahap Maut tahu! Bukankah aku punya banyak waktu untuk memikirkan apa
yang akan kulakukan, merencanakan langkahku. berikutnya, untuk kabur
seperti Karkaroff?"
"Kegusaran awal Pangeran Kegelapan soal
kedatanganku yang terlambat sirna sepenuhnya, yakinlah, ketika aku
menjelaskan bahwa aku tetap setia, kendatipun Dumbledore mengira aku
orang kepercayaannya. Ya, Pangeran Kegelapan tadinya mengira aku telah
meninggalkannya selamanya, namun dia keliru."
"Tapi apa kegunaanmu?" cemooh Bellatrix. "Informasi bermanfaat apa yang kami dapat darimu?"
"Informasiku disampaikan langsung kepada Pangeran Kegelapan," kata Snape. "Kalau dia memilih tidak memberitahumu --"
"Dia memberitahuku segalanya!" kata Bellatrix, langsung meledak. "Dia
menyebutku pengikutnya yang paling loyal, paling setia, paling --"
"Betulkah?" kata Snape, suaranya sengaja menyiratkan
ketidakpercayaannya. "Masihkah dia menganggapmu begitu setelah kegagalan
di Kementerian?"
"Itu bukan salahku!" kata Bellatrix, wajahnya
memerah. "Pangeran Kegelapan, tadinya, memercayaiku dan memberitahuku
rahasianya yang paling kalau Lucius tidak --"
"Jangan
berani-berani-jangan berani-berani kau menyalahkan suamiku!" kata
Narcissa, dengan suara rendah dan mengancam, menatap kakaknya.
"Tak ada gunanya membagi-bagi kesalahan," kata Snape lancar. "Semuanya sudah terjadi."
"Tapi kau tak ambil bagian!" kata Bellatrix gusar. "Tidak, kau sekali
lagi absen sementara kami yang lain menghadapi bahaya, kan, Snape?"
"Perintah untukku adalah agar tinggal di tempat," kata Snape. "Mungkin
kau tidak setuju dengan Pangeran Kegelapan, mungkin kau berpendapat
Dumbledore tidak akan memperhatikan bahwa aku telah bergabung dengan
para Pelahap Maut untuk melawan Orde Phoenix? Dan maafkan aku kau bicara
soal bahaya ... bukankah kalian menghadapi enam remaja?"
"Mereka
didukung, seperti yang kau ketahui, oleh separo Orde dalam waktu
singkat!" bentak Bellatrix. "Dan, selagi kita bicara tentang Orde, kau
tetap menyatakan tak bisa memberitahukan tempat Markas Besarnya, kan?"
"Aku bukan Penjaga Rahasia mereka, aku tak bisa menyebutkan nama tempat
itu. Kau kan tahu bagaimana cara kerja sihir ini, kukira? Pangeran
Kegelapan puas dengan informasi yang kusampaikan kepadanya soal Orde.
Informasiku menghasilkan, seperti yang mungkin telah kautebak,
penangkapan dan pembunuhan terhadap Emmeline Vance belum lama ini, dan
jelas membantu membereskan Sirius Black, walaupun aku mengakui kau yang
menghabisinya."
Snape mengedikkan kepala dan bersulang untuk Bellatrix. Ekspresi Bellatrix tidak melunak.
"Kau menghindari pertanyaanku yang terakhir, Snape. Harry Potter. Kau
bisa membunuhnya kapan saja dalam lima tahun belakangan ini. Kau tidak
melakukannya. Kenapa?"
"Sudahkah kau membicarakan masalah ini dengan Pangeran Kegelapan?" tanya Snape.
"Dia ... belakangan ini, kami ... aku menanyaimu, Snape!"
"Jika aku membunuh Harry Potter, Pangeran Kegelapan tidak akan bisa
menggunakan darahnya untuk lahir kembali, membuatnya tak terkalahkan --"
"Kau menyatakan kau sudah tahu sebelumnya kegunaan anak ini bagi Pangeran Kegelapan!" cemooh Bellatrix.
"Aku tidak bermaksud berkata begitu; aku sama sekali tak tahu
rencananya. Aku sudah mengakui, kusangka Pangeran Kegelapan sudah mati.
Aku hanya mencoba menjelaskan kenapa Pangeran Kegelapan tidak menyesal
bahwa Potter bertahan hidup, paling tidak sampai setahun yang lalu ..."
"Tetapi kenapa kau membiarkannya hidup?"
"Kau belum memahamiku? Perlindungan Dumbledore-lah yang membuatku tidak
dikirim ke Azkaban! Apakah kau tidak sepakat bahwa membunuh murid
favoritnya mungkin akan membuatnya memusuhiku? Tetapi ada alasan lain.
Kuingatkan bahwa ketika Potter baru tiba di Hogwarts masih banyak
beredar cerita tentang dia, rumor bahwa dia adalah penyihir hitam yang
hebat, itulah sebabnya dia berhasil selamat dari serangan Pangeran
Kegelapan. Malah, banyak pengikut lama Pangeran Kegelapan mengira Potter
bisa dijadikan panutan, bersamanya kita sekali lagi bisa bersatu. Aku
penasaran, kuakui, dan sama sekali tak berniat langsung membunuhnya
begitu dia tiba di kastil."
"Tentu saja, segera menjadi jelas bagiku
bahwa dia sama sekali tak punya bakat istimewa. Dia, berhasil lolos
dari berbagai situasi sulit semata-mata berkat kombinasi keberuntungan
dan kawan-kawan yang lebih berbakat daripadanya. Dia cuma biasa-biasa
saja, meskipun sama menjengkelkan dari berpuas diri seperti ayahnya. Aku
sudah berusaha sebisaku untuk membuatnya dikeluarkan dari Hogwarts,
menurutku dia tak layak berada di Hogwarts, tetapi membunuhnya atau
membiarkan dia terbunuh di depanku? Aku tolol kalau berani mengambil
risiko ini, dengan Dumbledore berada dekat begitu."
"Dan selama ini kami diharapkan percaya Dumbledore tidak pernah mencurigaimu?" tanya Bellatrix.
"Dia sama sekali tak menyadari kepada siapa sebetulnya kesetiaanmu kauberikan, dia masih memercayaimu sepenuhnya?"
"Aku memainkan peranku dengan baik," kata Snape.
"Dan kau melupakan kelemahan terbesar Dumbledore: dia memercayai yang
terbaik dari setiap orang. Aku mengarang cerita penyesalan teramat dalam
ketika aku bergabung menjadi stafnya, langsung setelah meninggalkan
hari-hariku sebagai Pelahap Maut, dan dia menerimaku dengan tangan
terbuka meskipun, seperti kukatakan, sebisanya tak pernah mengizinkan
aku dekat dengan Ilmu Hitam. Dumbledore penyihir hebat oh ya, dia
penyihir hebat" (karena Bellatrix mengeluarkan suara tajam) "Pangeran
Kegelapan mengakuinya. Meskipun demikian, aku senang mengatakan, bahwa
Dumbledore sekarang sudah tua. Duel dengan Pangeran Kegelapan bulan lalu
mengguncangnya. Sejak duel itu dia menderita luka serius, karena
reaksinya lebih lambat daripada sebelumnya. Tetapi selama bertahun-tahun
ini dia tidak pernah berhenti memercayai Severus Snape, dan itulah
sebabnya aku sangat berharga bagi Pangeran Kegelapan."
Bellatrix
masih tidak puas, meskipun dia tampak sangsi bagaimana cara paling baik
menyerang Snape berikutnya. Menggunakan kesempatan diamnya Bellatrix,
Snape menoleh memandang adiknya.
"Nah ... kau datang untuk meminta bantuanku, Narcissa?"
Narcissa mengangkat muka menatapnya, wajahnya dipenuhi keputusasaan.
"Ya, Severus. Ku -- kurasa kau satu-satunya yang bisa menolongku. Tak
ada orang lain yang bisa kumintai tolong. Lucius di penjara dan ..."
Dia memejamkan mata dan dua butir air mata besar bergulir dari bawah pelupuknya.
"Pangeran Kegelapan telah melarangku membicarakan ini;" Narcissa
melanjutkan, matanya masih terpejam. "Dia tak mau orang lain tahu
tentang rencana ini. Ini ... sangat rahasia. Tapi --"
"Kalau dia melarang, kau tak boleh membicarakannya," kata Snape segera. "Kata-kata Pangeran Kegelapan adalah hukum."
Narcissa kaget seakan Snape telah menyiramnya dengan air dingin.
Bellatrix tampak puas untuk pertama kalinya sejak dia memasuki rumah
itu.
"Nah!" katanya penuh kemenangan kepada adiknya. "Bahkan Snape melarangmu bicara, jadi jangan bicara!"
Namun Snape telah bangkit dan berjalan ke jendela kecil, mengintip
melalui gorden ke arah jalan yang sepi, kemudian menutup kembali gorden
dengan sentakan. Dia berbalik menghadapi Narcissa, mengernyit.
"Kebetulan aku tahu rencana ini;" katanya pelan. "Aku salah satu dari
sedikit orang yang diberitahu Pangeran Kegelapan. Meskipun demikian,
seandainya aku tak mengetahui rahasia ini, Narcissa, kau akan bersalah
melakukan pengkhianatan besar terhadap Pangeran Kegelapan."
"Kupikir kau pasti tahu tentang ini!" kata Narcissa, bernapas lebih lega. "Dia amat memercayaimu, Severus ..."
"Kau tahu rencana itu?" kata Bellatrix, ekspresi kepuasan yang cuma sekilas kini digantikan kemurkaan.
"Kau tahu?"
"Tentu," kata Snape. "Tetapi, bantuan seperti apa yang kau kehendaki,
Narcissa? Kalau kau membayangkan aku bisa membujuk Pangeran Kegelapan
untuk mengubah pikirannya, aku khawatir tak ada harapan, sama sekali tak
ada harapan."
"Severus," bisiknya, air mata mengalir di pipinya yang pucat. "Anakku ... anak tunggalku ..."
"Draco mestinya bangga," kata Bellatrix tak peduli. "Pangeran Kegelapan
memberinya kehormatan besar. Dan aku akan mengatakan ini untuk Draco:
dia tidak menyingkir dari tugasnya, dia tampaknya senang punya
kesempatan untuk membuktikan diri, bersemangat mau melakukannya --"
Narcissa mulai menangis tersedu, tak hentinya menatap Snape dengan pandangan memohon.
"Itu karena dia baru enam belas tahun dan sama sekali tak tahu apa yang
akan dihadapinya! Kenapa, Severus? Kenapa anakku? Ini terlalu
berbahaya! Ini pembalasan bagi kesalahan Lucius. Aku tahu!"
Snape
diam saja. Dia memalingkan pandangan dari air mata Narcissa, seakan itu
tak pantas, namun dia tak bisa berpura-pura tidak mendengarnya
"Itulah sebabnya dia memilih Draco, kan?" Narcissa mendesak. "Untuk menghukum Lucius?
"Jika Draco berhasil," kata Snape, masih tidak memandangnya, "dia akan menerima kehormatan lebih daripada yang lain."
"Tetapi dia tak akan berhasil!" isak Narcissa. "Bagaimana mungkin, kalau Pangeran Kegelapan sendiri?"
Bellatrix kaget, menahan napas. Narcissa tampaknya kehilangan keberanian.
"Aku cuma bermaksud mengatakan ... bahwa belum pernah ada yang berhasil
... Severus ... tolonglah ... kau, dari dulu, adalah guru favorit Draco
... kau teman lama Lucius ... kumohon ... kau favorit Pangeran
Kegelapan, penasihatnya yang paling dipercaya ... maukah kau bicara
kepadanya, membujuknya?"
"Pangeran Kegelapan tak bisa dibujuk, dan
aku tak begitu bodoh sehingga mau membujuknya," kata Snape datar. "Aku
tak bisa berpura-pura bahwa Pangeran Kegelapan tidak marah kepada
Lucius. Luciuslah penanggung jawab waktu itu. Dia malah tertangkap,
bersama entah berapa banyak yang lain, dan gagal mendapatkan kembali
ramalannya. Ya, Pangeran Kegelapan marah, Narcissa, amat sangat marah."
"Kalau begitu aku benar, dia memilih Draco untuk balas dendam!" isak
Narcissa. "Dia tak bermaksud Draco sukses, dia ingin Draco terbunuh
dalam usahanya!"
Ketika Snape diam saja, Narcissa tampak kehilangan
pertahanan dirinya yang hanya tersisa sedikit. Bangkit berdiri, dia
terhuyung mendekati Snape dan menjambret bagian depan jubahnya. Wajahnya
dekat ke wajah Snape, air matanya menetes ke dada Snape, dia tersedu,
"Kau bisa melakukannya. Kau bisa melakukannya, alih-alih Draco, Severus.
Kau akan berhasil, pasti kau berhasil, dan dia akan memberimu
penghargaan melebihi yang pernah kami semua terima"
Snape memegang
pergelangan tangan Narcissa dan menyingkirkan tangannya yang
mencengkeram jubahnya. Menunduk memandang wajah Narcissa yang basah oleh
air mata, dia berkata perlahan, "Dia bermaksud pada akhirnya aku yang
melakukannya, kurasa. Tetapi dia berkeras Draco mencobanya lebih dulu.
Soalnya, walaupun kelihatannya tak mungkin, seandainya Draco berhasil,
aku akan bisa tinggal di Hogwarts sedikit lebih lama, menjalankan
fungsiku yang berguna sebagai mata-mata."
"Dengan kata lain, tak jadi persoalan baginya kalau Draco terbunuh!"
"Pangeran Kegelapan sangat marah," . Snape mengulang pelan. "Dia gagal
mendengar ramalan itu. Kita sama-sama tahu, Narcissa, dia tidak mudah
memaafkan."
Narcissa merosot, terpuruk di kaki Snape, tersedu dan meratap di lantai.
"Anakku ... anak tunggalku ..."
"Kau mestinya bangga!" kata Bellatrix tanpa belas kasihan. "Kalau aku
punya anak laki-laki, dengan senang hati akan kuserahkan untuk melayani
Pangeran Kegelapan!"
Narcissa menjerit putus asa dan mencengkeram
rambut pirangnya yang panjang. Snape membungkuk, memegang lengannya,
mengangkatnya dan mendudukkannya kembali di sofa. Dia kemudian
menuangkan anggur lagi untuk Narcissa dan menyorongkan gelasnya ke
tangannya.
"Narcissa, sudah cukup. Minumlah ini. Dengarkan aku."
Tangis Narcissa mereda sedikit. Tangannya berguncang, sehingga anggur
tumpah ke tubuhnya. Dengan gemetar dia meneguknya sedikit.
"Ada kemungkinan ... aku bisa membantu Draco."
Narcissa duduk tegak, wajahnya pucat pasi, matanya membesar.
"Severus oh, Severus -- kau mau membantunya? Maukah kau menjaganya, supaya dia tidak celaka?"
"Aku bisa mencoba."
Narcissa melempar gelasnya; gelas itu meluncur di atas meja ketika
Narcissa merosot turun dari sofa dalam posisi berlutut di depan kaki
Snape, menyambar tangan Snape dengan kedua tangannya dan menekankan
bibirnya ke tangan itu.
"Kalau kau ada di sana untuk melindunginya ... Severus, maukah kau bersumpah? Maukah kau melakukan Sumpah Tak-Terlanggar?"
"Sumpah Tak-Terlanggar?" ekspresi Snape kosong, tak bisa ditebak: Bellatrix, sebaliknya, tertawa terbahak.
"Apa kau tidak mendengarkan, Narcissa? Oh, dia akan berusaha, aku yakin
... kata-kata kosong yang biasa, penghindaran yang biasa ... oh, atas
perintah Pangeran Kegelapan, tentunya!"
Snape tidak memandang
Bellatrix. Matanya yang hitam menatap mata biru Narcissa yang digenangi
air mata, sementara Narcissa terus menggenggam tangannya.
"Tentu, Narcissa, aku mau melakukan Sumpah Tak-Terlanggar," katanya pelan. "Barangkali kakakmu bersedia menjadi Pengikat kita."
Mulut Bellatrix ternganga. Snape berlutut di depan Narcissa. Di bawah
tatapan tercengang Bellatrix, tangan kanan mereka berpegangan.
"Kau perlu tongkat sihirmu, Bellatrix," kata Snape dingin.
Bellatrix mencabut tongkat sihirnya, masih tampak keheranan.
"Dan kau perlu mendekat sedikit," kata Snape. Bellatrix melangkah maju
sehingga dia berdiri di depan mereka dan meletakkan ujung tongkat
sihirnya ke tangan mereka yang bersatu. Narcissa bicara.
"Maukah kau, Snape, menjaga anakku Draco ketika dia berusaha memenuhi keinginan Pangeran Kegelapan?"
"Aku mau," kata Snape.
Lidah api tipis cemerlang meluncur dari tongkat sihir dan meliliti tangan mereka seperti kawat panas merah.
"Dan maukah kau, semampumu, melindunginya dari bahaya?"
"Aku mau," kata Snape.
Lidah api kedua meluncur dari tongkat sihir dan berjalin dengan yang pertama, menjadi rantai indah membara.
"Dan, jika diperlukan .... jika tampaknya Draco akan gagal ..." bisik
Narcissa (tangan Snape mengejang dalam tangan Narcissa, namun Snape
tidak menariknya),
"maukah kau menyelesaikan pekerjaan yang telah ditugaskan Pangeran Kegelapan kepada Draco?"
Sejenak hening. Bellatrix mengawasi, tongkat sihirnya di atas tangan mereka yang saling genggam, matanya terbelalak.
"Aku mau," kata Snape.
Wajah keheranan Bellatrix berpendar merah dalam cahaya lidah api
ketiga, yang meluncur dari tongkat sihirnya, berjalin dengan yang lain
dan mengikat kuat tangan mereka seperti tali, seperti ular api
Senin, 03 Februari 2014
01. MENTERI YANG LAIN
Harry Potter And The Half-Blood Prince
01. MENTERI YANG LAIN
Saat itu menjelang tengah malam dan perdana Menteri sedang duduk
sendirian di kantornya, membaca laporan panjang yang lewat begitu saja
melalui otaknya tanpa meninggalkan makna sedikit pun. Dia sedang
menunggu telepon dari presiden Negara yang jauh, dan diantara
bertanya-tanya kapan orang sialan itu akan menelepon dan berusaha
menekan ingatan tak menyenangkan akan
minggu yang sangat panjang, melelahkan, serta sulit, nyaris tak ada
ruang tersisa di otaknya untuk hal-hal lain. Semakin dia berusaha
memfokuskan pikiran pada halaman tercetak di depannya, semakin jelas
Perdana Menteri bisa melihat wajah kegirangan salah satu lawan
politiknya. Lawan politik yang satu ini telah muncul dalam berita hari
itu, tak hanya menyebutkan satu per satu semua kejadian mengerikan yang
terjadi sepanjang minggu lalu (lagi pula siapa yang perlu diingatkan),
namun juga menjelaskan kenapa masing-masing musibah itu adalah kesalahan
pemerintahan.
Denyut nadi Perdana Menteri bertambah cepat mengingat
tuduhan-tuduhan ini, karena semuanya tidak adil dan tidak benar.
Bagaimana mungkin pemerintahnya diharapkan bisa mencegah jembatan itu
ambruk? Sungguh kelewatan kalau ada yang menuduh mereka tidak
menyediakan cukup dana untuk jembatan. Jembatan itu belum lagi sepuluh
tahun, dan para ahli yang paling top pun bingung, tak bisa menjelaskan
kenapa jembatan itu mendadak putus jadi dua, menjerumuskan selusin mobil
ke dalam sungai dalam di bawahnya. Dan beraninya orang menuduh bahwa
kurang polisilah penyebab kedua pembunuhan sangat mengerikan yang
dipublikasikan secara meluas? Atau bahwa pemerintah mestinya sudah bisa
meramalkan terjadinya badai ajaib di West Country yang telah menelan
begitu banyak korban baik jiwa maupun harta benda. Dan salahnyakah jika
salah satu menteri mudanya, Herbert Chorley, telah memilih minggu itu
untuk bersikap begitu ganjil sehingga sekarang dia akan melewatkan lebih
banyak waktu bersama keluarganya?
"Suasana muram menyelimuti Negara ini," si lawan politik menyimpulkan, nyaris tanpa menyembunyikan seringai lebarnya.
Dan celakanya, ini betul sekali. Perdana Menteri merasakannya sendiri;
orang-orang betul-betul tampak lebih merana daripada biasanya. Bahkan
cuaca pun suram; banyak kabut dingin di tengah bulan juli ... ini tidak
benar, ini tidak normal ...
Dia membalik laporan ke halaman dua,
melihat laporan itu masih panjang, lalu menyerah. Seraya meregangkan
lengan di atas kepala, dia melihat ke sekeliling kantornya dengan pilu.
Kantornya bagus, dengan perapian pualam indah menghadap ke
jendela-jendela panjang berbingkai, yang sekarang tertutup rapat
gara-gara hawa dingin yang aneh. Dengan sedikit bergidik Perdana Menteri
bangkit dan berjalan ke jendela, memandang kabut yang berkumpul dan
menekan jendela. Saat itulah, ketika berdiri membelakangi ruangan, dia
mendengar batuk pelan di belakangnya.
Dia membeku, hidungnya
menempel pada bayangan wajahnya yang ketakutan di kaca jendela yang
gelap. Dia mengenali batuk itu. Dia pernah mendengarnya sebelumnya. Dia
berbalik, sangat perlahan, menghadap ruangan yang kosong.
"Halo?" katanya berusaha terdengar lebih berani daripada yang dirasakannya.
Sesaat dia membiarkan dirinya dikuasai harapan mustahil bahwa tak akan
ada yang menjawabnya. Meskipun demikian, jawaban langsung terdengar,
suara yang garing dan tegas yang kedengarannya seperti membaca
pernyataan yang tertulis. Suara itu datangnya -- seperti yang telah
diketahui Perdana Menteri waktu mendengar batuk yang pertama kali dari
pria kecil bertampang kodok memakai wig perak panjang yang tergambar
dalam lukisan cat minyak kecil kotor di sudut ruangan yang jauh.
"Kepala Perdana Menteri Muggle. Perlu sekali kita bertemu. Mohon segera
ditanggapi. Salam, Fudge. Pria dalam lukisan memandang Perdana Menteri
dengan ingin tahu.
"Er," kata Perdana Menteri, "ini bukan saat yang
cocok untuk saya ... saya sedang menunggu telepon, soalnya ... dari
presiden ne—"
"Itu bisa diatur-ulang," kata lukisan segera. Hati Perdana Menteri mencelos. Itu yang dia takutkan.
"Tetapi saya sungguh berharap bisa bicara-"
"Kita atur agar Presiden lupa menelepon anda. Alih-alih sekarang, dia
akan menelepon besok malam," kata pria kecil itu. "Tolong segera
menjawab Mr Fudge."
"Saya ... oh ... baiklah," kata Perdana Menteri lemah. "Ya, saya akan menemui Fudge."
Dia bergegas kembali ke mejanya, seraya meluruskan dasinya. Baru saja
dia duduk dan mengatur agar ekspresi wajahnya tampak rileks dan tak
terganggu, api hijau terang mendadak berkobar di perapiannya, di bawah
rak pualamnya. Dia mengawasi, berusaha tidak menunjukkan keterkejutan
ataupun ketakutan, ketika seorang pria gemuk muncul dalam kobaran api
itu, berpusing secepat gasing. Beberapa detik kemudian, dia melompat
keluar dari perapian ke permadani antik yang agak bagus, mengibaskan abu
dan mantelnya yang panjang bergaris, topi bowler berwarna hijau-limau
di tangannya.
"Ah ... Perdana Menteri," kata Cornelius Fudge, melangkah maju dengan tangan terjulur. "Senang bertemu anda lagi."
Perdana Menteri sejujurnya tak bisa membalas dengan ucapan yang sama,
maka diam saja. Dia sama sekali tak senang bertemu Fudge, yang muncul
dari waktu ke waktu. Kemunculannya sendiri sudah menakutkan, dan
biasanya kalau Fudge muncul Perdana Menteri akan mendengar kabar yang
sangat buruk. Lagipula, Fudge tampak jelas kelelahan. Dia lebih kurus,
kepalanya lebih botak, rambutnya lebih banyak ubannya, dan wajahnya
tampak kusut. Perdana Menteri sudah pernah melihat penampilan semacam
ini pada banyak politikus sebelumnya, dan ini tak pernah menjadi
pertanda baik.
"Bagaimana saya bisa membantu Anda?" tanyanya, sambil
sekilas menjabat tangan Fudge dan memberi isyarat ke arah kursi yang
paling keras di depan mejanya.
"Sulit mau mulai dari mana", gumam
Fudge, seraya menarik kursi, duduk dan meletakkan topi bowler-nya di
atas lututnya. "Minggu yang sungguh gila, sungguh gila..."
"Anda
mengalami minggu yang buruk juga?" tanya Perdana Menteri kaku, berharap
dengan berkata demikian dia sudah menyiratkan bahwa masalahnya sendiri
sudah banyak, tanpa perlu ditambahi masalah Fudge.
"Ya, tentu saja,"
kata Fudge, mengusap matanya dengan letih dan memandang murung Perdana
Menteri. "Saya mengalami minggu yang sama dengan Anda, Perdana Menteri.
Jembatan Brockdale...pembunuhan keluarga Bones dan Vance...belum lagi
kehebohan di West Country..."
"Anda—er—maksud saya, beberapa rakyat Anda terlibat dalam—dalam peristiwa-peristiwa itu, kan?"
Fudge memandang Perdana Menteri dengan tatapan yang agak tegang.
"Tentu saja mereka terlibat," katanya. "Mestinya Anda sudah menyadari apa yang terjadi?"
"Saya..."gagap Perdana Menteri.
Persis sikap seperti inilah yang membuatnya sangat membenci kunjungan
Fudge. Bagaimanapun juga dia Perdana Menteri dan tak suka disudutkan
sampai merasa seperti murid yang tak tahu apa-apa. Tetapi tentu saja,
situasinya selalu begini sejak pertemuannya dengan Fudge pada malam
pertamanya sebagai Perdana Menteri. Dia ingat jelas peristiwa itu,
seakan baru terjadi kemarin, dan tahu itu akan menghantuinya sampai hari
kematiannya.
Dia sedang berdiri sendirian di kantor ini, menikmati
kemenangan yang berhasil diraihnya setelah bertahun-tahun diimpikan dan
direncanakan, ketika didengarnya bunyi orang batuk di belakangnya,
persis malam ini. Ketika dia berbalik ternyata lukisan kecil jelek itu
berbicara kepadanya, memberitahunya bahwa Menteri Sihir akan datang dan
memperkenalkan diri.
Wajar saja, saat itu dia mengira kampanye yang
lama dan ketegangan pemilihan telah membuatnya sinting. Dia ngeri sekali
ada lukisan berbicara kepadanya, ketika ada orang yang menyatakan diri
sebagai penyihir melompat keluar dari perapian dan menjabat tangannya.
Dia bungkam seribu bahasa selama Fudge menjelaskan bahwa ada penyihir
yang masih tinggal secara rahasia di seluruh dunia, dan meyakinkan bahwa
dia tak perlu memusingkan hal ini karena Kementerian Sihir bertanggung
jawab untuk seluruh komunitas sihir dan mencegah populasi non-sihir tahu
soal adanya penyihir ini. Ini, kata Fudge, pekerjaan sulit yang
mencakup segala sesuatu dari pengaturan soal pertanggung jawaban
penggunaan sapu terbang sampai mengendalikan populasi naga (Perdana
Menteri ingat dia mencengkeram meja mencari pegangan agar tak jatuh
mendengar ini). Fudge kemudian menepuk bahu Perdana Menteri yang masih
kaget dengan gaya kebapakan.
"Tak perlu kuatir," katanya,
"kemungkinan Anda tak akan bertemu saya lagi. Saya hanya akan mengganggu
Anda jika ada sesuatu yang benar-benar serius terjadi di tempat kami,
sesuatu yang akan berpengaruh terhadap Muggle—populasi non-sihir,
menurut hemat saya. Kalau tidak, kita hidup sendiri-sendiri dalam damai.
Dan harus saya katakan, Anda menerima ini jauh lebih baik daripada
orang yang Anda gantikan. Dia berusaha melempar saya keluar dari
jendela, mengira saya ini olok-olok yang dikirim oleh partai lawan."
Mendengar ini, akhirnya Perdana Menteri bisa bicara lagi.
"Jadi, Anda bukan olok-olok?"
Itu harapannya yang terakhir, harapan dalam keputusasaan.
"Bukan," kata Fudge lembut. "Bukan, sayang bukan. Lihat."
Dan dia mengubah cangkir teh Perdana Menteri menjadi tikus kecil.
"Tapi", kata Perdana Menteri menahan napas, mengawasi cangkirnya
mengunyah-ngunyah, "tetapi kenapa—kenapa tak ada yang memberitahu
saya--?"
"Menteri Sihir hanya memperlihatkan diri kepada Perdana
Menteri Muggle yang sedang menjabat," kata Fudge, menyelipkan kembali
tongkat sihirnya ke dalam jaketnya. "Kami menganggap itu cara terbaik
untuk menjaga kerahasiaan."
"Tapi kalau begitu," Perdana Menteri mengembik, "kenapa tak ada mantan perdana menteri yang memperingatkan saya--?"
Mendengar ini, Fudge betul-betul tertawa.
"Perdana Menteri yang baik, apakah Anda akan memberitahu orang lain?"
Masih terkekeh, Fudge melemparkan sejumput bubuk ke dalam perapian,
melangkah ke dalam lidah api hijau-zamrud, dan menghilang dengan bunyi
deru. Perdana Menteri berdiri tertegun, tak bergerak, dan sadar bahwa
dia tak akan pernah, seumur hidupnya, berani menyebut-nyebut pertemuan
ini kepada orang lain, karena siapa sih di dunia ini yang akan
mempercayainya?
Keterkejutannya perlu beberapa waktu untuk memudar.
Selama beberapa waktu dia berusaha meyakinkan diri bahwa Fudge
betul-betul halusinasi yang disebabkan oleh kekurangan tidur selama
kampanye pemilihan yang sangat meletihkan. Dalam usaha sia-sia untuk
menyingkirkan semua yang mengingatkannya akan pertemuan yang membuat
tidak nyaman ini, dia memberikan tikus kecilnya kepada keponakannya yang
senang sekali dan menginstruksikan kepada sekretaris pribadinya untuk
menurunkan lukisan laki-laki kecil jelek yang telah mengumumkan
kedatangan Fudge. Meskipun demikian, betapa kecewanya Perdana Menteri,
lukisan itu ternyata tak mungkin dipindahkan. Ketika beberapa tukang
kayu, satu atau dua ahli bangunan, seorang sejarawan seni, dan ketua
bendahara semuanya telah mencoba tanpa hasil mencopot lukisan itu dari
dinding, Perdana Menteri menyerah dan hanya berharap lukisan itu tetap
bergeming dan tak bersuara selama sisa masa jabatannya. Kadang-kadang
dia yakin sekali melihat dari sudut matanya penghuni lukisan itu menguap
atau menggaruk hidungnya; bahkan, sekali atau dua kali, dia berjalan
keluar begitu saja dari lukisannya dan hanya meninggalkan sehelai kanvas
berwarna cokelat-lumpur. Meskipun demikian Perdana Menteri telah
melatih diri agar tidak terlalu sering melihat lukisan itu, dan selalu
memberitahu dirinya dengan tegas bahwa matanya mempermainkannya jika
sesuatu seperti ini terjadi.
Kemudian, tiga tahun yang lalu, pada
malam yang mirip sekali dengan malam ini, Perdana Menteri sedang
sendirian di dalam kantornya ketika lukisan itu sekali lagi mengumumkan
Fudge sebentar lagi akan datang. Fudge muncul begitu saja dari perapian,
basah kuyup dan dalam keadaan cukup panik. Sebelum Perdana Menteri
sempat bertanya kenapa air menetes-netes dari pakaiannya membasahi
karpetnya, Fudge sudah mulai berteriak-teriak tentang penjara yang belum
pernah didengar Perdana menteri, seorang laki-laki bernama "Serius"
Black, sesuatu yang kedengarannya seperti Hogwarts dan seorang anak
laki-laki bernama Hary Potter, tak satu pun masuk akal bagi Perdana
Menteri.
"...Saya baru datang dari Azkaban," kata Fudge terengah,
menuangkan cukup banyak air dari pinggiran topi bowlernya ke dalam
sakunya. "Di tengah Laut Utara, Anda tahu, pelarian yang sangat
gawat...para Dementor gempar---"dia bergidik "---belum pernah ada yang
berhasil kabur dari sana. Bagaimanapun juga, saya harus datang kepada
Anda, Perdana menteri. Black diketahui sebagai pembunuh Muggle dan
mungkin merencanakan bergabung dengan Anda-Tahu-Siapa!" Dia menatap
Perdana Menteri tanpa harapan selama beberapa saat, kemudian berkata,
"Nah, duduklah, duduklah, sebaiknya saya beritahu Anda...silahkan minum
wiski..."
Perdana Menteri agak sebal disuruh duduk di kantornya
sendiri, apalagi ditawari wiskinya sendiri, namun dia toh duduk juga.
Fudge telah mencabut tongkat sihirnya, menyihir dua gelas penuh cairan
kekuningan dari udara kosong, mendorong salah satunya ke tangan Perdana
Menteri, dan menarik kursi.
Fudge berbicara selama lebih dari satu
jam. Dia menolak menyebutkan satu nama tertentu, dan alih-alih
menyebutnya dia menuliskannya pada secarik perkamen, yang kemudian
disorongkannya ke tangan Perdana Menteri yang bebas-wiski. Ketika
akhirnya Fudge berdiri untuk pergi, Perdana Menteri juga berdiri.
"Jadi menurut Anda..." dia menyipitkan mata membaca nama di tangan kirinya, "Lord Vol—"
"Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut!" gertak Fudge.
"Maaf...menurut Anda, Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut nasih hidup, kalau begitu?"
"Yah, kata Dumbledore begitu," kata Fudge, seraya mengancingkan mantel
bergarisnya di bawah dagunya, ´tapi kami belum pernah berhasil
menemukannya. Jika Anda tanya pendapat saya, dia tidak berbahaya kecuali
dia punya pendukung. Jadi, Black-lah yang harus kita cemaskan. Nah,
saya harap kita tidak bertemu lagi, Perdana Menteri! Selamat malam!"
Nyatanya mereka bertemu lagi. Kurang dari setahun yang lalu, Fudge yang
tampak kacau muncul begitu saja entah dari mana Ruang Kabinet untuk
memberitahu Perdana Menteri bahwa ada gangguan dalam Piala dunia
Kwidditch (kedengarannya begitu) dan bahwa beberapa Muggle "terlibat",
namun Perdana Menteri diminta agar tidak khawatir, fakta bahwa Tanda
Kau-Tahu-Siapa terlihat lagi tidka berarti apa-apa. Fudge yaakin itu
insiden yang tak ada hubungannya dan Kantor Hubungan Muggle sedang
menangani semua modifikasi memori sementara mereka berbicara itu.
"Oh, dan saya hampir lupa," Fudge menambahkan. "Kami mengimpor tiga naga
asing dan satu sphinx untuk Turnamen Triwizard, cukup rutin, tapi
Departemen Pengaturan dan Pengawasan Makhluk-Makhluk Gaib memberitahu
saya, dalam buku peraturan tercantum bahwa kami harus memberitahu Anda
kalau kami memasukkan makhluk-makhluk sangat berbahaya ke dalam negara
ini."
"Saya—apa—naga?" gagap Perdana Menteri.
"Ya, tiga," kata Fudge. "Dan satu sphinx. Nah, selamat siang."
Perdana Menteri sungguh berharap bahwa naga dan sphinx adalah yang
terburuk, namun ternyata tidak. Kurang dari dua tahun kemudian, Fudge
muncul dari perapian lagi, kali dengan berita bahwa ada pelarian
besar-besaran dari Azkaban.
"Pelarian besar-besaran?" Perdana Menteri mengulang parau.
"Tak perlu kuatir, tak perlu kuatir!" teriak Fudge. Satu kakinya sudah
di dalam lidah api. "Kami akan menangkap mereka dalam waktu
singkat—hanya saja saya pikir anda perlu tahu!"
Dan sebelum Perdana Menteri bisa berteriak, "Tunggu dulu!" Fudge telah menghilang dalam siraman bunga api hijau.
Apa pun yang dikatakan pers dan partai lawan, Perdana Menteri bukanlah
orang bodoh. Tidak luput dari perhatiannya bahwa, kendati Fudge
meyakinkannya agar tenang dalam pertemuan pertama mereka, mereka kini
agak sering bertemu, dan juga dalam setiap kunjungan Fudge semakin
bingung. Walaupun dia tak suka memikirkan Menteri Sihir (atau, seperti
dia selalu menyebut Fudge dalam kepalanya, Menteri yang Lain), Perdana
Menteri mau tak mau cemas bahwa kali berikutnya Fudge muncul, dia akan
membawa berita yang lebih menakutkan. karena itu, kedatangan Fudge, yang
melangkah keluar dari perapian sekali lagi, tampak berantakan dan
ketakutan dan sangat heran bahwa Perdana Menteri tidak tahu kenapa
persisnya dia berada di sana, adalah hal terburuk yang terjadi selama
seminggu yang luar biasa suram ini.
"Bagaimana mungkin saya tahu apa
yang sedang terjadi di—er—komunitas sihir?" bentak Perdana Menteri
sekarang. "Saya punya negara untuk diurus dan cukup banyak masalah saat
ini tanpa—"
"Masalah kita sama," potong Fudge. "Jembatan Brockdale
tidak rusak. Dan itu bukan angin ribut. Pembunuhan itu bukan perbuatan
Muggle. Dan keluarga Herbert Chorley akan lebih aman tanpa dia. Kami
saat ini sedang mengatur untuk memindahkannya ke Rumah Sakit St Mungo
untuk Penyakit dan Luka-Luka Sihir. Perpindahan akan dilaksanakan malam
ini."
"Apa maksud Anda...saya rasa saya tidak...apa?" gertak Perdana Menteri.
Fudge menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Perdana Menteri, saya
sungguh menyesal terpaksa harus memberitahu Anda bahwa Dia yang Namanya
Tak Boleh Disebut telah kembli."
"Kembali? Sewaktu Anda mengatakan ´kembali´...dia hidup? Maksud saya—"
Perdana Menteri mencari-cari dalam ingatannya rincian percakapan
mengerikan tiga tahun sebelumnya, ketika Fudge memberitahunya tentang
penyihir yang paling ditakuti, penyihir yang telah melakukan seribu
tindak kriminal sebelum menghilang secara misterius lima belas tahun
yang lalu.
"Ya, hidup," kata Fudge. "Maksud saya—saya tak
tahu—apakah orang bisa dikatakan hidup kalau dia tak bisa dibunuh?
Sebenarnya saya tidak mengerti, dan Dumbledore tidak mau menjelaskan
dengan gamblang—tapi bagaimanapun juga, dia jelas punya tubuh dan bisa
berjalan dan bicara dan membunuh, maka saya kira untuk keperluan
pembicaraan kita, ya, dia hidup."
Perdana Menteri tidak tahu harus
menanggapi bagaimana, namun kebiasaan yang telah melekat pada dirinya
untuk selalu tampil serba tahu tentang topik apa saja yang muncul,
membuatnya mencari-cari detail yang bisa diingatnya dalam pembicaraan
mereka sebelumnya.
"Apakah Serius Black bersama—er—Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut?"
"Black?Black?" kata Fudge bingung, memutar-mutar topi bowlernya dengan
cepat dengan jari-jarinya. "Sirius Black, maksud Anda? Jenggot Merlin,
tidak, Black sudah meninggal. Ternyata kami—er—keliru tentang Black. Dia
tidak bersalah. Dan dia juga tidak bersekutu dengan Dia yang Namanya
Tak Boleh Disebut. Maksud saya," dia menambahkan membela diri, memutar
topinya lebih cepat, "semua bukti menunjuk—kami punya lebih dari lima
puluh saksi mata—tapi bagaimanapun juga, seperti yang saya katakan, dia
sudah meninggal. Dibunuh, sebenarnya. Di kantor Kementrian Sihir. Akan
ada penyelidikan, sebetulnya..."
Perdana Menteri heran sendiri
ketika dia merasa kasihan kepada Fudge saat itu. Namun rasa kasihannya
segera dipudarkan oleh rada puas diri, saat terpikir olehnya bahwa,
sekalipun dia tak bisa muncul dari dalam perapian, tidak pernah terjdi
pembunuhan departemen pemerintahan mana pun di bawah tanggung
jawabnya...belum, paling tidak...
Sementara Perdana Menteri
sembunyi-sembunyi mengetuk papan mejanya, Fudge melanjutkan, "Tapi Black
sudah lewat. Persoalannya sekarang, kita sedang perang, Perdana
Menteri, dan harus ada langkah-langkah yang diambil."
"Perang?" ulang Perdana Menteri gugup. "tentunya pernyataan itu agak berlebihan?"
"Para pengikut Dia yang Namanya Tak Boleh Disebut yang kabur dari
Azkaban Januari lalu sekarang sudah bergabung dengannya," kata Fudge,
berbicara makin lama makin cepat, dan memutar topinya begitu cepatnya
sehingga seperti pusaran hijau-limau. "Sejak bergerak terang-terangan,
mereka menyebabkan malapetaka di mana-mana. Jembatan Brockdale—dia yang
melakukannya, Perdana Menteri, dia mengancam akan mengadakan pembunuhan
massal Muggle kalaus aya tidak mau menyisih untuknya dan—"
"Astaga,
jadi kesalahan Anda-lah orang-orang ini terbunuh dan saya harus menjawab
pertanyaan-pertanyaan tentang tiang-penyangga berkarat dan
perpanjangan-sendi keropos dan entah apa lagi!" kata Perdana Menteri
berang.
"Salah saya!" kata Fudge, wajahnya memerah. "apakah Anda mau mengatakan Anda mau memfitnah saya?"
"Barangkali tidak," kata Perdana Menteri, bangkit berdiri dan berjalan
mengelilingi ruangan, tapi saya akan mengerahkan segala upaya untuk
menangkap si penjahat sebelum dia melakukan kekejian seperti itu!"
"Apakah Anda benar-benar mengira saya belum mengerahkan segala upaya?
tuntut Fudge panas. "Semua Auror di Kementrian sudah—dan sedang—berusaha
mencarinya dan menangkapi para pengikutnya, tapi yang kita bicarakan
ini salah satu penyihir paling hebat sepanjang masa, penyihir yang
berhasil menghindari penangkapan selama hampir tiga dekade!"
"Jadi,
saya rasa Anda akan memberitahu saya dia menyebabkan angin ribut di West
Country juga?" kata Perdana Menteri, kemarahannya meningkat seiring
setiap langkahnya. Sungguh mengesalkan berhasil mengetahui alasan
terjadinya malapetaka mengerikan ini dan tidak bisa memberitahu publik,
hampir sama buruknya dengan kalau itu kesalahan pemerintahan.
"Itu bukan angin ribut," kata Fudge merana.
"Maaf!" bentak Perdana Menteri, sekarang benar-benar mengentakkan kaki.
"Pohon-pohon tercabut, atap-atap beterbangan, tiang-tiang lampu
bengkok, luka-luka mengerikan—"
"Itu ulah Pelahap Maut," kata Fudge.
"Para pengikut Dia yang Namanya Tak Boleh disebut...dan kami mencurigai
keterlibatan raksasa."
Perdana Menteri langsung berhenti berjalan seolah dia menabrak dinding yang tak kelihatan.
"Keterlibatan apa?"
Fudge meringis. "Dia menggunakan raksasa kali lalu, ketika ingin
memberi efek luar biasa. Kantor Informasi yang Keliru telah bekerja dua
puluh empat jam sehari, kami mengirim tim-tim Obliviator untuk
memodifikasi memori semua Muggle yang melihat apa yang sesungguhnya
terjadi, sebagian besar personel Pengaturan dan Pengawasan
Makhluk-Makhluk Gaib berkeliaran di Somerset, tapi kami belum berhasil
menemukan raksasanya—sungguh malapetaka!"
"Malapetaka besar!" kata Perdana Menteri gusar.
"Saya tidak membantah bahwa kami semua terpukul di Kementrian," kata
Fudge. "dengan semua kejadian itu dan kemudian kehilangan Amelia Bones."
"Kehilangan siapa?"
"Amelia Bones, kepala Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir. Kami menduga
Dia yang Namanya Tak bOleh disebut sendiri yang membunuhnya, karena
Amelia penyihir yang sangat berbakat—dan semua bukti menunjukkan dia
melawan dengan gigih."
Fudge berdehem dan, dengan susah payah, kelihatannya, berhenti memutar topi bowler-nya.
"Tapi pembunuhan itu ada di koran-koran," kata Perdana Menteri, sejenak
marahnya terlupakan. "Koran kami. Amelia Bones...hanya dikatakan dia
wanita setengah-baya yang hidup sendirian. Pembunuhan yang—yang
mengerikan, kan? Agak banyak dipublikasikan. Polisi bingung, soalnya."
Fudge menghela napas. "Yah, tentu saja mereka bingung. Terbunuh dalam
kamar yang dikunci dari dalam, kan? Kami sebaliknya, tahu persis siapa
yang melakukannya, walaupun itu tidak membuat kami jadi selangkah lebih
maju dalam usaha menangkapnya. Dan kemudian Emmeline Vance, barangkali
Anda tidak dengar tentang yang ini—"
"Oh ya, saya dengar!" kata
Perdana Menteri. "Terjadinya malah hanya dibalik tikungan dekat sini.
Koran-koran mendapat berita seru. Pelanggaran Hukum di halaman belakang
kantor Perdana Menteri—"
"Dan seakan itu semua belum cukup," kata
Fudge, hampir-hampir tidak mendengarkan Perdana Menteri, "masih ada para
Dementor yang berkeliaran, menyerang orang di mana-mana..."
Suatu
hari di saat yang lebih menyenangkan, kalimat ini pastilah tak
dimengerti Perdana Menteri, namun sekarang dia lebih bijaksana.
"Bukankah para Dementor menjaga para napi di Azkaban?" dia bertanya hati-hati.
"Memang, dulu," kata Fudge letih. "Tapis ekarang tidak lagi. Mereka
meninggalkan penjara dan bersekutu dengan Dia yang Namanya Tak Boleh
Disebut. Saya tak akan berpura-pura bahwa ini bukan pukulan berat."
"Tapi," kata Perdana Menteri, mulai merasa ngeri, bukankah Anda
memberitahu saya mereka makhluk-makhluk yang menyedot harapan dan
kebahagiaan dari orang-orang?"
"Betul. Dan mereka berkembang biak. Itulah yang menyebabkan adanya semua kabut ini."
Perdana Menteri, yang lututnya mendadak lemas, ternyata duduk di kursi
terdekat. Membayangkan makhlu-makhluk tak kelihatan melayang-layang di
seluruh kota dan pedesaan, menyebarkan keputusasaan dan hilang harapan
di antara para pemilihnya, membuatnya pusing.
"Dengar, Fudge—Anda harus melakukan sesuatu! Ini tanggung jawab Anda sebagai Menteri Sihir!"
"Perdana Menteri yang baik, masa Anda mengira saya masih tetap menjabat
Menteri Sihir setelahs emua kejadian ini? Saya dipecat tiga hari yang
lalu. Seluroh komunitas sihir sudah berteriak menuntut pengunduran diri
saya selama dua minggu ini. Belum pernah saya melihat mereka bersatu
seperti itu selama masa jabatan saya! kata Fudge, berusaha memberanikan
diri tersenyum.
Perdana Menteri selama beberapa saat kehilangan
kata-kata. Kendati dia jengkel ditempatkan dalam posisi terpojok, dia
masih merasa agak kasihan terhadap laki-laki bertampang kuyu yang duduk
di depannya.
"Saya ikut prihatin," katanya akhirnya. "kalau ada yang bisa saya lakukan?"
"Anda baik sekali, Perdana Menteri, tapi tak ada yang bisa Anda
lakukan. Saya dikirim ke sini malam ini untuk memberitahu Anda
perkembangan situasi terakhir dan memperkenalkan Anda kepada pengganti
saya. Saya pikir mestinya dia sudah di sini sekarang, tapi tentu saja
dia sangat sibuk, dengan begitu banyak kejadian."
Fudge berpaling
memandang lukisan laki-laki kecil jelek memakai wig panjang ikal perak,
yang sedang mengorek telinganya dengan ujung pena-bulu.
Menangkap mata Fudge, lukisan itu berkata, "Dia akan ke sini sebentar lagi, dia sedang menyelesaikan surat kepada Dumbledore."
"Semoga dia beruntung," kata Fudge, terdengar getir untuk pertama
kalinya. "Aku menulis kepada Dumbledore dua kali sehari selama dua
minggu terakhir ini, tetapi dia bergeming. Kalau saja dia bersedia
membujuk anak itu, aku mungkin masih...yah, barangkali Scrimgeour akan
lebih berhasil."
Baru saja Fudge terdiam dan tampak sedih,
keheningan dipecahkan oleh lukisan, yang tiba-tiba saja berbicara dengan
suara garing dan resmi.
"kepala Perdana Menteri Muggle. Memohon pertemuan. Urgen. Tolong segera ditanggapi. Rufus Scrimgeour, Menteri Sihir."
"Ya,ya, baik," kata Perdana Menteri dengan pikiran kacau, dan belum
sempat dia bergerak, api dalam perapiannya sudah berubah hijau-zamrud
lagi, berkobar dan memperlihatkan penyihir berpusar yang kedua di
tengahnya, mengeluarkannya beberapa saat kemudian di atas permadani
antik. Fudge bangkit dan setelah ragu-ragu sejenak, Perdana Menteri ikut
bangkit, mengawasi penyihir yang baru datang menegakkan diri,
mengebaskan debu dari jubah hitamnya yang panjang, dan memandang
berkeliling.
Pikiran bodoh pertama Perdana Menteri adalah bahwa
Rufus Scrimgeour tampak seperti singa tua. Rambutnya yang berwarna
kuning-kecoklatan dihiasi uban di sana-sini, demikian juga alisnya yang
lebat. Matanya tajam kekuningan di belakang kacamata berbingkai kawat,
dan dia memiliki keanggunan yang menyiratkan dia sanggup berjalan jauh
dan melompat, walaupun jalannya sedikit timpang. Kesan langsung yang
timbul adalah dia cerdas dan tegar. Perdana Menteri membatin dia
memahami kenapa komunitas sihir lebih memilih Scrimgeour daripada Fudge
sebagai pemimpin dalam situasi berbahaya begini.
"Apa kabar?" sambut Perdana Menteri sopan, mengulurkan tanagnnya.
Scrimgeour menjabatnya singkat, matanya meneliti seluruh ruangan,
kemudian dia menarik keluar tongkat sihir dari balik jubahnya.
"Fudge sudah memberitahu Anda semuanya?" dia bertanya, berjalan ke pintu
dan mengetuk lubang kuncinya dengan tongkat sihirnya. Perdana Menteri
mendengar bunyi "ceklek" pintunya yang mengunci.
"Er—ya," kata Perdana Menteri. "Dan jika Anda tidak keberatan, saya lebih suka pintu tidak terkunci"
"Saya lebih suka tidka terganggu," kata Scrimgeour pendek, "atau
diintip," dia menambahkan, mengacungkan tongkat sihirnya ke deretan
jendela sehingga gordennya menutup semua. "Baik, nah, saya sibuk sekali,
jadi kita langsung ke pokok masalahnya. Yang pertama, kita perlu
merundingkan keamanan Anda."
Perdana Menteri berdiri tegak dan menjawab, "Saya sudah puas dengan sistem keamanan yang saya miliki, terima ka—"
"Kami tidak," potong Scrimgeour. "Rawan sekali bagi para Muggle kalau
Perdana Menteri mereka sampai berada di bawah Kutukan Imperius.
Sekretaris baru Anda di kantor luar—"
"Saya tidak bersedia
memberhentikan Kingsley Shacklebolt, kalau itu yang Anda usulkan!" kata
Perdana Menteri panas. "Dia sangat efisien, menyelesaikan pekerjaan dua
kali lebih cepat daripada yang lain—"
"Itu karena dia penyihir,"
kata Scrimgeour, tanpa senyum sedikit pun. "Auror sangat terlatih, yang
ditugaskan untuk melindungi Anda."
"Tunggu sebentar!," tukas Perdana
Menteri. "Anda tak bisa begitu saja memasukkan orang-orang Anda di
kantor saya, saya yang menentukan siapa-siapa yang bekerja untuk saya—"
"Bukankah tadi Anda katakan Anda puas dengan Shcklebolt?" kata Scrimgeour dingin.
"Memang—maksud saya, tadinya—"
"Kalau begitu tak ada masalah,kan?" kata Scrimgeour.
"Saya...yah, asal kerja Shacklebolt tetap..er..hebat," kata Perdana Menteri tertegun-tegun.
"Sekarang tentang Herbert Chorley—menteri muda Anda," dia melanjutkan. "Yang menghibur publik dengan menirukan bebek."
"Bagaimana dengan dia?" tanya Perdana Menteri.
"Jelas sekali itu disebabkan oleh Kutukan Imperius yang tidka
sempurna,´ kata Scrimgeour. "Kutukan itu mengacaukan otaknya, tapi dia
masih bisa berbahaya."
"Dia cuma meleter!" kata Perdana Menteri lemah. " Tentunya istirahat sedikit...barangkali mengurangi minum..."
"Tim Penyembuh dari Rumah Sakit St Mungo untuk Penyakit dan Luka-Luka
Sihir sedang memeriksanya sementara kita bicara ini. Sejauh ini dia
sudah berusaha mencekik tiga di antara mereka," kata Scrimgeour. "Saya
rasa paling baik kita pindahkan dia dari masyarakat Muggle untuk
sementara waktu."
"Saya...yah...dia akan sembuh, kan? kata Perdana
Menteri cemas. Scrimgeour hanya mengangkat bahu, sudah bergerak ke arah
perapian.
"Nah, hanya itu yang ingin saya sampaikan. Saya akan
mengabarkan perkembangan yang terjadi kepada Anda, Perdana Menteri—atau
paling tidak, saya barangkali akan terlalu sibuk untuk bisa datang
sendiri, dalam hal ini saya akan mengirim Fudge ke sini. Dia sudah
sepakat tetap di Kementrian dalamkapasitas sebagai penasihat."
Fudge
berusaha tersenyum, namun gagal, jadinya dia cuma seperti orangs akit
gigi; Scrimgeour sudah mencari-cari dalam sakunya bubuk misterius yang
mengubah warna api jadi hijau. Perdana Menteri memandang tak berdaya
mereka berdua sejenak, kemudian kata-kata yang dicoba ditahannya
sepanjang malam ini akhirnya meledak keluar.
"Tapi astaga—Anda berdua kan penyihir! Anda bisa melakukan sihir! Tentunya Anda bisa membereskan—yah—apa saja!"
Scrimgeour berputar perlahan di tempatnya berdiri dan betukar pandang
tak percaya dengan Fudge, yang kali ini benar-benar tersenyum ketika dia
berkata dengan baik hati, "Persoalannya, pihak satunya itu juga bisa
sihir, Perdana Menteri!"
Dan dengan kata-kata itu, kedua penyihir melangkah bergantian ke dalam api berwarna hijau cemerlang dan lenyap.
Langganan:
Komentar (Atom)